• Latest News

    Subcribe and Follow For New Update

    Friday, February 26, 2016

    [Light Novel Indonesia] Artania - Find and Feel The Sensation Chapter 4

    Chapter 04
    Luna

    “Urgh..” ucap Rain di dalam keadaannya.

    Tersadar di dalam situasinya, Rain memandang sekitar. Memang sudah beberapa jam ini Rain tertidur pulas di dalam posisinya setelah berhasil mengalahkan dinosaurus berkapak.

    Sejenak di dalam keadaan kepalanya yang masih sedikit pusing, ia mulai memikirkannya kembali. Tentu saja karena ia baru sadar di dalam keadaannya, belum lagi sebelumnya ia tertidur cukup lama dan sekarang harus bangun secara tiba-tiba.

    Ia mulai memikirkan dan mencoba mengingat kembali, semua pertarungan yang telah di laluinya bersama dengan Crown sebelumnya.  Tapi ketika ia memikirnya, Rain menjadi teringat tentang kehadiran Crown.

    “Ah, benar.. Crown! Dimana dia sekarang?”  pikirnya. 

    Untuk sesaat, Rain kembali memandang sekitar dengan seksama. Namun betapa terkejutnya Rain ketika memandang di dalam posisinya itu.

    “HUAAAAAH!?” teriaknya.

    “Ada apa, Tuan?” tanya Crown.

    Entah apa yang dipikirkan Crown, Rain pun tak mengerti. Di dalam posisi wajahnya yang setengah mengantuk, Crown memeluk tubuh Rain dengan eratnya. 

    Crown memeluknya,

    seakan-akan Rain adalah seorang kekasih yang dipilih di dalam hidupnya.

    Menanggapi hal itu, dengan cepatnya Rain berusaha menghindar. 

    Keadaan itu sangat meresahkannya,

    membuatnya panik dan gusar.

    Kemudian dengan gerakan tangannya yang cepat namun tak terkesan kasar, Rain melepaskan pegangan tangan Crown yang mendekap tubuhnya. Lalu pada saat bersamaan ia berdiri, dan berlari menjauh dalam posisinya. 

    Namun di tengah tindakan yang berakhir dengan keberhasilan itu, Crown mengatakannya..

    “Ayo Tuan, peluk aku.. peluk aku lebih erat lagi..” ucapnya masih dalam keadaannya yang setengah mengantuk.

    Tapi bukannya Rain senang, malahan Rain menjadi takut. Tentu saja tindakan Crown itu sangat membuatnya heran dan terkejut. 

    Wajar saja, selama ini yang Rain ketahui, Rain tidak pernah melihat Crown seagresif ini di dalam komputernya. Jadi bagaimana mungkin Crown melakukan tindakan ini.

    Namun Crown tak jera. Masih dalam keadaannya yang menutup mata dan setengah mengantuk, Crown berjalan dengan cepat mendekati Rain. Tapi di dalam pengejaran itu, Rain terus berlari dan berusaha untuk menghindarinya. Tetapi sayang, di saat Rain menghindarinya, Rain terjatuh akibat tersandung sebuah batu yang berada di depan mata kakinya.

    Akhirnya sekali lagi, 

    Crown berhasil memeluk Rain di dalam keadaan jatuhnya,

    memeluk Rain dengan sangat erat dalam keadaannya.

    “Bisakah kau sedikit tenang, Tuan..” ucap Crown tersadar di dalam keadaan itu sambil perlahan membuka matanya.

    Sejenak di dalam keadaan yang berakhir hening itu, Crown tersentak memandang Rain. Tentu saja karena saat ini, wajah mereka sangat dekat. Belum lagi di dalam keadaan ini mereka saling menatap dengan posisi Crown yang berada di atas Rain sambil memeluknya. 

    Tapi sekarang terlihat perbedaan di dalam wajah Crown ketika Rain memandangnya. kini, dengan wajahnya yang memerah dan tersipu malu, ia menatap Rain. Tak kalah hebatnya dengan Crown, Rain juga memandangnya dengan tatapan matanya yang terlihat terkejut, dan wajahnya yang memerah padam.

    Tapi tetap saja niat Crown tak kunjung reda untuk menggodanya. Di tengah keadaan yang merisaukan Rain itu, Crown berkata..

    “Mengapa, Tuan?” ucapnya dengan nada menggoda, “apa kau tidak ingin memeluk gadis secantik aku?” 

    Sambil menelan air liur di tenggorokannya, Rain terus memandang wajah Crown yang terlihat begitu dekat. Crown sangat dekat, dekat sekali dengan wajahnya yang memerah. Membuat Rain menjadi canggung dan begitu malu di dalam keadaannya. Lalu setelah merasa cukup mabuk di dalam posisinya, sama halnya dengan tak ada perkataan yang bisa diungkapkannya, akhirnya Rain berteriak..

    “SUDAAAAH!! HENTIKAAAAAN!” teriaknya.

    Namun menanggapi sikap Rain, Crown hanya tertawa. Tertawa dengan sangat senangnya seolah perkataan Rain itu sangat menghiburnya.

    “Baiklah.. baiklah, Tuan..” ucap Crown di dalam keadaan itu.

    Akhirnya setelah Rain berteriak, Crown melepaskan pelukannya. Diikuti dengan Rain yang beranjak mundur menjauhi Crown dengan tatapan matanya yang sinis.

    “Hyahaha!” tawa Crown.

    “Kau tidak perlu menjauhiku seperti itu, Tuan..” ucapnya.

    Memang benar tindakan Crown yang satu ini sangat mengejutkannya. Terlebih lagi Crown memeluk Rain dengan sangat mesranya. 

    Tapi di dalam pemikiran itu, dengan tegasnya, Crown menjelaskan semua pertanyaan yang mengganggu pemikiran tuannya.

    “Coba kau lihat LP-mu, Tuan,” ucap Crown kepada Rain.

    Sejenak di dalam perkataannya, Rain mulai memandang status bar LP yang ada di dalam pandangannya. Lalu dengan tatapan matanya yang tidak percaya, ia memandang status bar LP itu.

    Sekarang status bar LP yang berada di dalam pandangannya itu telah terisi penuh. Jadi wajar saja bila Rain terkejut dan terlihat heran.

    “Apa yang dilakukannya?”  pikir Rain.

    Lalu di tengah kebingungan Rain,

    Crown menjelaskannya.

    “Kau lihat, kan? Tuan?” tanyanya.

    “Sebelumnya kau pasti mengetahuinya, bahwa status LP di dalam bar-mu itu hanya tersisa setengah,” ungkapnya.

    Tapi menanggapi perkataan Crown, dengan wajah herannya, Rain bertanya lansung kepadanya..

    “Apa yang telah kau lakukan untuk mengisinya?” tanya Rain.

    Tanpa perasaan canggung atau malu,

    Crown menjelaskannya.

    Kurasa ada yang salah dengan pikiran Crown.

    “Kekuatan fisik akan menguras LP, karena itu harus ada yang dilakukan untuk mengisi LP tersebut..” ucapnya.

    “Misalnya berpelukan dengan mesra,” jelasnya.

    “HAAAAAH?!” teriak Rain di dalam penjelasannya.

    “Itu benar!” balas Crown dengan sebuah senyuman.

    “Berbeda dengan HP yang tak kunjung berkurang jika tak mendapatkan luka atau serangan, LP harus di isi dengan beristirahat,  lebih cepatnya dengan sebuah kehangatan tubuh atau kencan antara player,” jelasnya.

    “Bukankah sudah pernah kubilang, Sim dating!”

    Sejenak di dalam perkataannya, tiba-tiba saja Rain teringat tentang perkataan Crown sebelumnya. Teringat akan sebuah pernyataan dimana pada saat ia menjelaskan semua peraturan termasuk dengan Sim Dating.

    Setelah mendengar penjelasan singkatnya, Rain mendekati Crown kembali, dan berkata..

    “Kupikir kau sudah gila..” ungkapnya dengan wajah yang sedikit kesal.

    Namun menanggapi sikap Rain,

    Lagi-lagi Crown tertawa dengan senang dan menggodanya.

    “Hyahaha,” tawanya. 

    “Bukankah kau menikmatinya, Tuan?” tanya Crown, “jadi, mengapa kau terlihat kesal?”

    “MENIKMATINYA KAU BILANG?!!” teriak Rain di tengah pertanyaannya.

    Kemudian menanggapi sikap Rain yang terlihat menyebalkan itu, Crown memegang perutnya sambil menahan tawanya. Tentunya sikap tuannya itu sangat menghiburnya, sampai-sampai ia menahan tertawanya sesaat.

    Namun bukannya jera, Crown terus menyudutkan Rain dengan godaan-godaan khasnya, sambil berkata..

    “Sudahlah Tuan, akui saja..” sindir Crown di tengah teriakan Rain.

    “Atau jangan-jangan kau tidak menyukai wanita?” tanyanya dengan parasnya yang menggoda.

    Tapi sepertinya Rain sudah mencapai pemikiran normalnya. Di tengah keadaannya, Rain menghela nafasnya. Setelah berhasil menenangkan dirinya, dengan nada tegasnya, ia kembali berkata kepada Crown tanpa mengubris perkataannya tadi..

    “Lantas sekarang, kita berada dimana?” tanya Rain dengan keseriusannya.

    Melihat keseriusan Rain yang begitu tegas, membuat Crown berhenti mengodanya. Tentu saja karena Crown tahu, saat tuannya sedang memperlihatkan keseriusannya, jangan pernah sekali pun mencoba mengodanya, apalagi mempermainkannya. 

    “Sekarang kita berada lima kilometer di depan hutan, yang tak jauh dengan kerajaan MOONFORD, Tuan,” jelas Crown di dalam perkataan Rain.

    “Kerajaan MOONFORD?”  pikir Rain.

    Sejenak Rain tertegun di tengah perkataan Crown. Tentu saja perkataan Crown itu menarik perhatiannya. Terlebih lagi memang hal itu adalah suatu hal yang harus dipertimbangkan. Karena saat ini, mereka belum menemukan tempat persinggahan semenjak kedatangan di dalam dunia ini.

    Namun Rain menyadarinya, menemukan tempat persinggahan pun bukanlah suatu hal yang baik. Terlebih lagi, belum tentu kedatangan mereka akan disambut dengan hangat 

    Tapi tidak ada salahnya mencoba, itulah yang dipikirkan Rain ketika menatap Crown. Lalu karena memikirkan hal itulah, akhirnya Rain berkata..

    “Baiklah, kurasa kita harus mengunjugi kerajaan itu segera..” ungkapnya kepada Crown.

    ***

    Satu jam telah berlalu di dalam perjalanan mereka. Memang benar, meskipun sebelumnya Crown bilang tak jauh, tetap saja rute yang mereka tempuh cukup panjang.

    “Tak jauh dari mananya..”  pikir Rain di dalam keadaan itu.

    Namun di dalam perjalanan itu, lagi-lagi Crown terlihat lemas. Membuat Rain menjadi sebal, dan terlihat kesal di dalam rasa lelahnya. Memang Rain mengetahuinya, mengajak wanita berjalan adalah hal yang paling menyulitkan, belum lagi semua hal yang dikeluhkannya.

    Tapi, mau bagaimana lagi, sebisa mungkin Rain harus menahan semua emosinya untuk bisa keluar dari situasi sulitnya ini. Dan karena alasan itulah, akhirnya Rain berkata..

    “Baiklah, mungkin kita akan istirahat sejenak di sini..” kata Rain di dalam keadaan Crown yang terlihat lemas dan lelah.

    “Terima kasih, Tuan..” jawab Crown sambil terhuyung di dalam keadaannya.

    Sejenak, Rain bersinggah di dalam keadaannya. Memang saat ini, belum sedikit pun mereka beranjak keluar dari dalam hutan. Masih sama, setiap Rain memandang, hanya ada pepohonan yang menghalangi di sekitarnya.

    Angin bertiup pelan di antara mereka.

    Membuat hati Rain tenang dan santai untuk sementara waktu.

    Rain mulai memejamkan matanya. Keadaannya kali ini sangat membuatnya nyaman. Rain merasa lelah karena telah melakukan perjalanan selama satu jam lamanya bersama dengan Crown. 

    Begitu juga dengan Crown. Masih dengan keadaannya yang pulas, Crown tertidur tak jauh dari tempatnya. Namun itu bukan suatu hal yang mengherankan, karena Crown adalah tipe wanita yang gampang tertidur dengan pulas di dalam keadaannya.

    Tetapi..

    Baru saja mereka menikmati keadaannya..

    “Kyaaaaa!!” teriak Crown.

    Baru saja mereka menikmati keadaannya, kembali lagi, Rain disudutkan dengan sebuah masalah baru yang menimpa Crown.

    Dengan cepat,

    Rain membuka matanya..

    Tersentak di dalam keadaanya.

    “Ini’kan?!”  pikir Rain tidak percaya.

    “Tuaaan!! Tolong aku, Tuaaaan!” teriak Crown di dalam posisinya.

    Saat ini tepat di dalam pandangan mata Rain, terdapat suatu hal yang baru untuk di hadapi. Itu adalah sebuah monster aneh menyerupai gurita, dan mempunyai banyak tentacle di setiap sisinya.

    Melihatnya saja sudah membuat Rain heran. Tentu saja, sebelumnya dinosaurus bertangan yang memegang kapak, sekarang monster yang menyerupai gurita dan terdapat di dalam hutan.

    “Kurasa aku akan benar-benar gila..”  pikir Rain ketika menatap monster itu.

    Namun Rain sadar tidak ada waktu untuk ragu, sementara sekarang Crown sedang kesulitan di dalam posisinya.

    Kini tepat di hadapan Rain, Crown berteriak dengan kencangnya sambil berusaha melakukan perlawanan dengan tentacle yang mengunci erat kedua tangannya beserta dengan kedua kakiknya.

    Melihatnya saja sudah membuat Rain malu dan sesekali membuang pandangannya ke arah itu. Tentu saja saat ini Crown mengenakan sebuah rok, belum lagi di tengah keadaannya itu, Roknya terbuka dengan sangat lebar.

    Membuat Rain menjadi canggung dan enggan memandangnya.

    “Bagaimana ini?!”  pikir Rain.

    Memang Rain jarang sekali terlihat bersama dengan wanita di dalam kesehariannya. Apalagi sekarang ini dia harus melihat celana dalam Wanita. Namun mau tidak mau, Rain harus membiasakannya, sebab ini bukanlah saatnya bercanda atau pun malu.

    Sejenak Rain menutup matanya dan menghela nafasnya di dalam keadaan yang membuatnya canggung. Dan seketika Rain mulai berlari mendekatinya.

    Di dalam keadaan larinya, Rain mulai mengeluarkan senjatanya dan bersiap menyerang monster itu. Akan tetapi sayang, ketika ia memeriksa inventorynya, hanya terdapat sebuah pedang yang didapatkannya dari monster dinosaurus berkapak.

    Lalu di dalam keadaannya yang mengerluarkan pedang itu..

    Rain terjatuh di dalam posisinya,

    terjatuh di dalam keadaan larinya.

    Rain terjatuh dengan sangat keras, di ikuti dengan sebuah bunyi yang sangat kencang. Namun di dalam keadaan itu, tangannya yang masih memegang pedang dengan erat. 

    Ternyata pedang yang digenggamnya itu sangat berat, itulah yang membuatnya terjatuh dan terhenti di dalam posisi berlarinya.

    Rain tidak pernah memperhitungkannya, bahwa pedang yang akan dikeluarkannya ini sangat berat dan menjadi beban untuknya. Tentu saja karena sebelumnya Rain belum pernah mencoba memegang pedang baru ini, apalagi mencoba mengayunkannya.

    “Tuaaaan!” teriak Crown ketika melihat Rain terjatuh di dalam posisinya.

    Tersentak dengan teriakan Crown, Rain mencoba beranjak dan bangkit berdiri di dalam posisinya. Meskipun Rain sangat tahu, sangat sulit baginya untuk mengangkat pedang itu, apalagi membawanya berlari.

    Namun karena usaha dan keinginannya sangat keras untuk menolong Crown, akhirnya Rain berhasil mengangkatnya dengan semua tenaga dan mencoba membawanya berlari.

    Tapi belum saja Rain berhasil mendekati monster itu,

    Rain kembali dikejutkan dengan teriakan Crown.

    “Tidaaak!!! Jangaaan!! Jangan di situ!!”

    Di dalam posisi Crown, monster itu mulai mengerayanginya. Tapi ini sedikit berbeda dari pemikiran Rain. Tentu saja karena tentacle monster itu mengerayangi seluruh permukaan tubuh crown, belum lagi tubuh Crown terlihat sangat basah karena lendir yang keluar dari tentacle-tentacle itu.

    Di tambah lagi seiring menit berlalu, cairan yang keluar dari tentacle itu mulai mengeluarkan effectnya. Perlahan namun dengan pasti, terlihat sebuah perubahan pada pakaian Crown.

    Meleleh,

    dan semakin meleleh..

    Tapi bukannya Rain cepat bertindak, malahan Rain membuang pandangannya dan enggan untuk maju. Lalu sambil membuang pandangan matanya, Rain berteriak..

    “UWAAAH!” teriak Rain sambil mengalihkan pandangannya.

    Memang Rain adalah seorang pria yang pemarah, tapi di balik itu, Rain adalah seorang yang cukup pemalu.

    “Tidaaak, jangan.. jangan..” teriak crown.

    Perlahan namun dengan pasti, di dalam keadaan Crown terdengar suara yang semakin mengelisahkan Rain. 

    Dengan teriakan yang kencang,

    desah-desahan yang terdengar seperti menikmati sesuatu.

    Pikiran Rain semakin kacau dan gusar. Tentu saja mereka sama sekali belum keluar dari keadaan sulitnya. Belum lagi ditambah dengan keadaan Crown yang semakin lama semakin meresahkan digendang telinganya.

    Maka di tengah pemikiran yang kacau, dengan seketika Rain mencoba menolongnya..

    Rain berlari membawa pedangnya,

    dan mencoba menyerang monster itu dengan menutup matanya.

    Entah apa yang dipikirkan Rain ketika melakukan itu, Crown pun tidak mengerti. Namun mungkin tindakannya itu sudah diperhitungkannya. Itulah yang dipikirkan Crown di sela keadaannya yang terlihat menyakitkan dan sangat cabul untuknya.

    “HANCURLAH!!” teriak Rain ketika mendekati tubuh monster itu dan  berhasil mengayunkan pedangnya.

    Namun yang terjadi malah sebaliknya.

    Rain berhasil mengayunkan pedangnya, akan tetapi tak sedikit pun serangan itu berhasil melukai tubuhnya. Wajar saja karena Rain menutup matanya, mana mungkin Rain bisa menyerangnya.

    Mungkin karena Rain terkadang menonton anime action di sela kegiatannya bermain game, yang membuatnya bertindak seperti itu. Karena di dalam anime action itu, tak jarang, ada saja pahlawan atau tokoh sampingan yang menyerang musuhnya dengan menutup matanya. Yah bisa saja di bilang kerennya mata hati katanya.

    Di tengah keadaan gagal itu, dengan cepat tentacle itu melumat Rain yang berada di dekatnya. Sehingga di dalam keadaannya, Rain menjatuhkan pedangnya jauh berada di bawah, dan ikut terbawa naik ke atas bersama dengan tarikan tentacle itu.

    “Ternyata ini tidak berkerja di dunia ini..”  pikir Rain.

    Melihat keadaan Rain, Crown tertawa dengan lantangnya. Meskipun setelah itu Crown kembali merintih dengan desahan anehnya.

    “Aaah.. tidaak, jangaan.. jangan..” desah Crown.

    “Sial, bagaimana ini?!”  pikir Rain di tengah keadaan itu.

    Namun di tengah keadaan yang mencemaskan itu.

    “Luna, Transform!” teriak sesorang dari bawah di dalam keadaan itu.

    “Yes, Mom!” balas seseorang menyahutnya.

    Seketika di tengah keadan itu, Rain segera memandang dimana suara itu berasal. Di bawah dia bisa melihatnya, seorang wanita cantik setengah baya, dengan seorang gadis belia yang terlihat sebaya seperti Rain dan Crown. 

    Memang bukan saatnya memperhatikan orang, itulah yang dipikirkan Rain ketika memandang mereka. Namun menurut Rain tidak ada salahnya memperhatikan mereka. Karena bisa saja mereka membantu di dalam keadaannya, atau pun menyulitkannya.

    Namun Rain dikejutkan kembali ketika memandang mereka dari kejauhan itu. Kini seorang wanita yang menyahut panggilan itu diselubungi oleh cahaya pekat, dan seketika..

    Wanita itu merubah dirinya menjadi sebuah pedang.

    Pedang yang sangat indah dan menawan.

    Lalu seketika, setelah melakukan perubahannya itu, wanita yang memerintahkannya mulai menggenggam pedang itu dan berlari mendekati monster yang menangkap mereka. Dia berlari dengan sangat cepat, seolah bersiap membereskan gangguan yang berada di dalam jangkauan Rain dan Crown.

    Dengan lompatannya yang lumayan tinggi dan sangat lincah, wanita itu melayang tepat di dalam pandangan Rain. Lalu seketika di dalam keadaan itu, wanita itu sudah mengayunkan pedangnya dan berhasil memotong setiap tentacle yang sejak tadi terus mengikat dan menahan pergerakan Rain.

    Awalnya hanya Rain yang terjatuh di dalam keadaan itu. Namun ternyata selang beberapa saat di dalam keadaanya, Rain dikejutkan dengan jatuhnya Crown yang berhasil mendarat dan jatuh tepat di atas tubuhnya.

    Crown terjatuh tepat di tubuhnya,

    dengan pakaiannya yang hampir tak terlihat.

    “Urgh..“ rintih Rain di dalam posisinya itu. 

    Namun pada saat Rain berhasil memandang Crown..

    “HUAAAAAH!!” teriak Rain seraya menjauhkan diri dari tubuh Crown dan membalikan punggungnya tepat di hadapannya.  

    Tapi ternyata Crown ini memang benar-benar senang mengerjai Tuannya. Tak jera, di dalam situasi Rain yang cemas dan malu itu, Crown menggodannya dengan menempelkan kedua buah dadanya tepat di punggungnya.

    “Ada apa, Tuan? Mengapa kau mengalihkan pandanganmu?” goda Crown di dalam keadaan Rain.

    “Hentikan Crown! Hentikan..” ucap Rain berusaha untuk menghentikan tindakan Crown itu.

    “Kenapa, Tuan? Apa kau tidak menyukaiku? Atau ini terlalu kecil untukmu?” tanyanya.

    Tubuh Rain bergetar di dalam keadaannya, wajahnya memerah, diikuti dengan wajahnya yang penuh keringat. Belum lagi sekarang punggungnya menyentuh suatu hal yang hanya dimiliki oleh Crown, jadi wajar saja. Mungkin Rain belum terbiasa dengan situasi yang mengoda seperti ini, mungkin.

    Karena sudah merasa tak tahan, terlebih lagi keadaan ini sangat menggangunya dan membuatnya takut, akhirnya dia berteriak dengan kencangnya.. 

    “SUDAAAAH HENTIIIIKAAANN!” teriak Rain di dalam keadaannya.

    Namun di sela teriakan itu..

    “Hyahaha..” tawanya, “reaksi yang sangat bagus, Tuan.”

    Tapi di sela kesenangan mereka..

    “Hei, kalian! Apa yang kalian lakukan di sini?” ucap seorang wanita yang mendekati mereka.

    Sejenak di dalam keadaan Crown yang memandangnya, Rain tercengang dengan pemandangan yang ada di belakang wanita itu. Tentu saja, karena di belakang wanita itu terlihat sebuah serpihan data yang terurai bersama dengan udara.

    “Tidak mungkin..”  pikir Rain. 

    “Bagaimana ia bisa melenyapkannya secepat itu?”

    Baru saja berlalu beberapa menit di dalam keadaannya, wanita itu sudah berhasil melenyapkan monster tentacle yang sejak tadi  menjadi gangguan untuk mereka. Masih dengan ekpresi wajahnya yang penuh ketidak percayaan, Rain memandang wanita itu.

    “Bagaimana mungkin..”  pikir Rain.

    Rain memandang wanita itu dengan penuh kecemasan, tentu saja karena wanita itu bisa saja menghabisinya dengan mudah bersama dengan Crown di dalam keadaan ini.

    Namun yang dipikirkan Crown malah sebaliknya.

    “Aku adalah Crown, dan dia adalah Rain!” jawab Crown dengan senyuman hangat.”

    “Hei Crown, hei-hei!” tegur Rain di dalam perkataannya.

    Sejenak di dalam perkataan Rain, wanita itu memandang mereka. Dengan tatapan matanya yang tajam, dia memandang mereka dan berkata..

    “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya tanpa mengubah sedikit pun sorot matanya.

    Mendengar perkataan itu membuat Rain menjadi cemas. Tentu saja karena wanita itu terus menatapnya dengan sorot mata yang tajam bersama dengan Crown.

    Dan lagi-lagi,

    Crown menjawabnya dengan nada yang riang,

    santainya.

    “Kami sedang mencari jalan keluar dari dalam hutan ini, dan ingin bersinggah di dalam kerajaan MOONFORD!” jawab Crown dengan ekspresi hangatnya.

    Sejenak wanita itu tertegun di dalam perkataannya. Mungkin karena Crown terlihat aneh di matanya, karena menjawabnya tanpa keraguan sedikit pun dengan ekspresi yang hangat.

    Sementara Rain masih memandang wanita itu dengan ekspresi cemasnya dan penuh dengan pertanyaan.

    Namun perkataan Crown berhasil meyakinkannya.

    “Baiklah, kurasa aku bisa mempercayaimu,” jawabnya dengan sebuah senyuman.

    Di dalam keadaannya, Rain menghela nafasnya sejenak. Tentu saja kedatangan wanita ini sangat mencemaskannya, belum lagi ia tidak tahu apa maksud tujuan wanita ini membantu mereka di dalam keadaannya.

    Namun di tengah pemikiran Rain itu,

    kembali wanita itu melakukan tindakan yang membuatnya tercengang.

    “Luna, Return,” ucapnya.

    Lalu seketika di dalam perkataan itu, terjadilah hal yang mengejutkan di dalam pandangan mereka. Perlahan pedang yang di genggamnya itu mengeluarkan cahaya yang sangat pekat..

    Membuat Rain terpukau,

    dan terpanah di dalam keadaannya.

    Cahaya itu perlahan mulai mengubah wujudnya. Sedikit demi sedikit namun pasti, pedang itu mulai mengubah wujudnya di dalam cahaya itu dan menjadi seorang gadis sebaya seperti Crown dan Rain.

    Lalu dengan sebuah senyuman ramah, setelah berhasil mengubah wujudnya dan cahaya itu menghilang, gadis itu berkata..

    “Maaf membuat kalian terkejut!” ucapnya.

    Di dalam keadaan itu, gadis itu memandang wajah mereka, namun berbeda dengan wanita itu. Gadis itu sangat terlihat riang dan ramah. Dan setelah memastikan wajah kami, wanita itu berkata..

    “Perkenalkan, aku adalah LUNA!” ucapnya dengan wajah yang sangat riang.

    “Salam kenal!”


    Artania - Find and Feel The Sensation
    Chapter 04 - END
    To be continued Chapter 05 - Sword of Rebellion
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comment:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Light Novel Indonesia] Artania - Find and Feel The Sensation Chapter 4 Rating: 5 Reviewed By: Anorend Heyko
    Scroll to Top