• Latest News

    Subcribe and Follow For New Update

    Friday, February 26, 2016

    [Light Novel Indonesia]Dark Eyes - The Beginning of Evil ( Chapter 4 - Tanya Hati )



    DARK EYES

    BAB IV
    Tanya hati

    Sepuluh juli, pukul setengah sembilan pagi.

    “Hoaaaam..”

    “Ada apa denganmu, Wataku?” tanya Yuri di belakangku.

    Di awali dengan uapan kantuk, aku memulai aktifitas sekolah seperti biasanya. Meskipun mataku terasa sangat berat pada pagi ini. Semua ini terjadi karena ulah Charon yang selalu muncul di setiap waktu.Terlebih lagi semenjak  kemarin, aku sudah memulai perkerjaan sambilan yang cukup melelahkan. 

    Meskipun perkerjaan sambilan itu hanya berlansung tiga hari dalam seminggu, namun itu tak menjadi alasan bagiku untuk menolak kehadirannya. Contoh ulahnya yang lain seperti yang terjadi di pagi ini. Charon mengagetkanku kembali di saat aku sedang terjaga. 

    “Padahal aku bisa tidur lebih lama..” pikirku.


    Sungguh menyebalkan.


    “Tidak apa-apa,” jawabku kepada Yuri masih dengan keadaan setengah mengantuk.

    Setelah mendengar jawaban dariku, Yuri terdiam. Kemudian dengan sorot matanya yang tajam, ia memandangku sejenak, dan berkata..

    “Jarang sekali aku melihatmu menguap seperti itu..” gumamnya.


    Yuri mendelik ke arahku dengan wajahnya yang penuh dengan kecurigaan.


    Seketika aku tersentak didalam keadaan kantukku ketika  memandangnya. Tentu saja sikap Yuri itu sangat membuatku heran dan sekaligus bertanya-tanya. Lalu masih, di dalam tatapan Yuri, ia mulai mengungkapkan semuanya dan berkata..

    “Tunggu dulu!” ucapnya terkejut, “apakah mungkin?! Wataku?!” 

    “Jangan bilang, kamu?!” ucapnya seolah tahu akan sesuatu.


    Melihat ekspresi Yuri membuatku terkejut.


    “Jangan-jangan dia tahu tentang hal itu?!”  pikirku tidak percaya.


    Namun kurasa aku terlalu berlebihan menilainya.


    “Jangan-jangan kamu.. semalam bergadang menonton anime yah?!” tanya yuri.


    Rasanya aku ingin jatuh mendengar jawabannya itu.


    Aku menarik nafas sejenak di dalam keadaan itu, seakan lega mendengar ucapannya. Tentu saja keadaan itu cukup merisaukanku, terlebih lagi sebelumnya aku tak tahu maksud Yuri memandangku dengan tatapan itu.

    Namun ketika Yuri berbicara seperti itu, didalam otakku munculah kembali sebuah simulasi pertarungan yang terjadi tiga hari yang lalu. Sebuah kenangan yang menegangkan dan tak akan pernah terlupakan.

    “Tidak kok.. ” jawabku dengan tersenyum.

    Hanya itu yang bisa ku jelaskan kepada Yuri tentunya. Terlebih, tak mungkin ada seorang pun yang percaya dengan kejadian tersebut. Menurutku, menyembunyikannya adalah suatu alasan yang tepat.


    Sebuah pemikiran yang cukup aman.


    Yah begitulah awal semua ini berlansung.

    ***

    Jam pelajaran pun dimulai. Waktu demi waktu terlewati walaupun rasa kantuk merajamku. Tentunya sebagai pelajar yang baik, aku tetap menjalani aktifitas dikelasku seperti murid-murid lainnya.YAITU..


    Membaca manga!


    Yah karena hanya itulah energi kehidupan yang mampu membuatku bertahan dalam situasi sulit ini. Keadaan yang sangat mendesak ini.


    HP dalam characterku.


    Sampai pada akhirnya Jam istirahat pun datang..

    “Aku pergi keluar dulu yah, Wataku!” ucap Yuri ketika meninggalkanku dan kemudian dia beranjak keluar dari kelas.

    Di dalam sapaan keberanjakannya itu, aku terus membaca manga dengan santainya. Kejadian itu berlansung cukup lama, sampai.. 
    Tiba-tiba  terdengar suara wanita memanggil di belakangku. Ia memanggil dengan sangat tiba-tiba, dengan sangat kencangnya, sampai-sampai aku sangat terkejut di buatnya.


    Memanggilku, tanpa terasa sedikit pun  keberadaannya.


    “HEI!HEI!” katanya sambil menepuk pundakku.

    Di dalam keadaan yang mengejutkan itu, aku berteriak dengan sangat kencang. Begitu kagetnya,  sampai-sampai aku menjatuhkan manga yang berada di dalam genggamanku.

    “HUAAH!” teriakku terkejut. 

    Karena kehadirannya yang tak terasa dan sangat tiba-tiba, aku menjadi Histeris. Tentu saja keadaan itu sangat merisaukanku. Seketika, aku lansung melompat dan berlari dari tempat dudukku. 

    Melihat prilaku itu, teman-teman sekelas menatapku dengan wajah penuh keheranan. Lagi-lagi, aku di kejutkan dengan kedatangan Charon yang muncul secara tiba-tiba.

    “Kamu lagi!” teriakku kepada Charon.

    Teriakkanku sungguh kencang, sampai-sampai membuat seluruh siswa di dalam kelas melihat kearahku. Tapi menanggapi sikap mereka, aku hanya terdiam tanpa mengatakan apa pun.
    Lalu dengan santainya aku berjalan kembali ke tempat dudukku, dan berkata kepadanya..              

    “Lagi-lagi kamu mengagetkanku,” ucapku kepadanya di tengah langkahku menuju tempat duduk.


    Tetapi,

    Charon hanya tersenyum mendengar ucapanku. 


    “Menyebalkan...” pikirku.

    “Tak bisakah kamu muncul secara biasa saja..” gerutuku kepadanya.

    Yah begitulah dia, ketika aku menunjukan sikap kesalku, tak pernah sedikit pun kata yang terucap dari bibirnya.  


    Hanya tersenyum tanpa mengucapkan perkataan apa pun

    Menyebalkan bukan?


    “Lalu apa yang kamu inginkan?” tanyaku di tengah kehadirannya itu.


    Charon bertanya dalam pertanyaanku.

    Seakan pertanyaanku adalah jawaban dari pertanyaanku.


    “Kamu, apa yang kamu lakukan?!” tanya Charon.


    Bukannya menjawab pertanyaanku,

    Charon malah kembali bertanya kepadaku. 

    “Seperti yang kamu lihat, aku sedang membaca manga,” balasku, sambil mengambil kembali manga yang telah ku jatuhkan tadi dan membacanya.   


    Tapi melihat sikapku itu, Charon kembali bertanya..

    “Mengapa kamu masih bermalas-malasan?” tanyanya di tengah aktifitasku itu.

    “Ini sudah menjadi hobiku, kau tahu itu,” jawabku santai.

    Namun entah mengapa Charon tak terlihat puas setelah aku mengungkapkan perkataan itu. Lalu ketika ia mendengar jawaban dan melihat sikap santaiku, Charon menjadi geram.

    “Baiklah, kalau begitu aku akan membunuhmu sekarang!” ungkapnya.  

    “Heeeh?!” pekikku terkejut di tengah keadaan membacaku.


    Charon menggeleng-gelengkan kepala dengan wajahnya yang sedikit kecewa.


    “Kamu ini, payah!” kata Charon kepadaku.

    “Baru saja dosa itu hilang dari dalam tubuhmu, kamu sudah bermalas-malasan kembali,” ucap Charon sambil menghela nafas.

    “Begitulah manusia,” jawabku bangga. 


    Entah mengapa, di tengah jawabanku ini menarik perhatiannya. Itu semua bisa kulihat saat sesekali aku memandangnya di dalam keadaan membacaku. Terlihat keseriusan yang terpancar di dalam wajahnya. Entahlah, aku pun kurang mengerti. 


    Dengan sorot matanya yang tajam ia memandangku.


    Lalu di tengah jawaban itu, dengan sorot matanya yang tajam, dan nadanya yang sangat tegas, ia berkata..

    “Jangan berpikir dosa itu tidak akan bisa kembali kepadamu,” jelas Charon.

    Aku terkejut mendengar ucapannya. Meskipun Charon tidak mengancamku, entah mengapa penjelasannya terdengar seperti ancaman.


    Ia berkata seakan-akan dosa itu akan menghinggapiku kembali.


    “Bukankah dosa itu telah lenyap? aku menyaksikan sendiri dengan mataku,” gubrisku.

    “Memang dosa itu telah lenyap, tapi bukan berarti keberadaannya tak bisa muncul kembali bukan?” jawabnya di tengah perkataanku.


    Aku tersentak di dalam perkataannya.


    “Jadi dosa itu suatu saat bisa kembali kepadaku kapan saja?” tanyaku kepadanya.

    “Itu benar,” jawabnya, “dosa adalah sebuah kesalahan yang di buat manusia..”  “Dosa itu bisa muncul kembali di hadapanmu kapan saja, jika kamu terus melakukan kesalahan yang berhubungan dalam dosa itu,” jelasnya.


    Aku terdiam.. lalu seketika aku mengalihkan pandangan mata dari manga dan terus melhatnya..

    Penjelasannya tentang dosa membuatku tertegun..


    Lalu menanggapi sikapku itu, dengan tegas dan jelas ia menceritakan semuanya.

    “Seperti kemarin yang terjadi pada dirimu, itu adalah salah satu iblis dari tujuh dosa besar yang ada di dunia yaitu BELPHEGOR ( Kemalasan )!”

    Aku merenungkan perkataannya dalam-dalam. Lalu tanpa kusadari, ternyata dosa yang ku punya sangatlah besar. Itulah sebabnya pada waktu itu Charon sungguh-sungguh berniat untuk membunuhku.

    “Selama ini aku terus mencari iblis ke tujuh dosa besar itu, tapi tak pernah mendapatkan hasil,” jelasnya, “tetapi yang selama itu juga kutemukan hanyalah jiwa-jiwa tersesat biasa.”


    Lalu kemudian Charon terdiam sejenak,

    menghela nafasnya, dan kembali berkata..


    “Telah banyak korban yang berjatuhan dengan tanganku ini,” sesalnya, “aku tak mau mengulanginya lagi.”

    Setelah mengungkapkan hal itu, terlihat sedikit kesedihan di wajahnya. Memang, sepertinya perkataan satu ini sangat berat untuk di terima olehnya. Charon menunjukan ekspresi itu seakan-akan ia sangat kecewa dengan tindakannya selama ini.

    Melihat ekspresi Charon yang seperti itu membuatku bersimpati.  Lalu di tengah keadaan itu, aku kembali bertanya kepadanya dan berusaha mencoba mengalihkan pembicaraan yang mungkin akan menyinggung tentang masa lalunya.

    Aku hanya berpikir, terkadang ketika seseorang terlihat menyedihkan, jangan tanyakan hal itu lebih dari apa pun.

    “Lantas apa yang terjadi jika Jiwa yang tersesat itu berhasil menguasaiku?” tanyaku kepada Charon.


    Charon menatapku dalam-dalam, dan berkata..


    “Kau akan di telan oleh dalamnya kegelapan..” ucapnya.

    Aku tersentak mendengar jawaban Charon. Terkejut?  Sudah pasti. Sepertinya ucapannya ini tidak main-main. Dengan jelas, aku melihat keseriusan di dalam tatapannya.

    “Urghh..” gerutuku.

    Kemudian tanpa berbasa-basi kembali, ia berkata kepadaku..

    “Jiwamu akan disingkirkan dari tubuhmu, dan menjadi wadah tubuh yang baru untuk si iblis..” ucapnya.

    “Kemudian kepribadianmu akan lenyap, lalu kau akan merasakan hidup sesudah mati!” jelas Charon dengan nada yang tegas.

    Mendengar perkataan Charon membuat goresan  besar dipikiranku. Memang perkataannya ini sangat merisaukanku. 


    Sepertinya aku takkan melupakan perkataannya yang satu ini.


    “Sungguh mengerikan,” jawabku.

    “Walaupun banyak dosa-dosa lainnya, akan tetapi semua itu tidaklah seberat dengan tujuh iblis dosa besar,” ucap Charon.


    Tujuh Dosa Besar?


    Kembali dengan nadanya yang tegas, ia mengungkapan perkataan yang selalu berulang-ulang kepada tujuh dosa besar. Namun sejak tadi, aku tidak memperdulikannya dengan jelas, karena aku tidak seberapa memperdulikannya. Sebelumnya aku hanya memperhatikan perkataannya pada penjelasan tentang tentang akibat dan perbuatannya selama ini.

    Tapi karena penjelasannya selalu berputar-putar akan hal itu, secara garis besar, aku membutuhkan spesifikasi lebih dalam dan jelas tentang hal itu. Dan akhirnya di sela perkataannya, aku bertanya kepadanya..

    “Lalu apa saja yang menjadi iblis tujuh dosa besar itu?” tanyaku kepadanya.

    Seketika, setelah mendengar pertanyaanku, sebuah simpul senyum bangga terlihat jelas di dalam wajah Charon. Kemudian, Charon menarik nafas sejenak dan berkata.. 

    “Pertama adalah Pride (Kesombongan), berasal dari iblis Lucifer,” kata Charon seraya menjelaskan semuanya satu-persatu secara detail.

    “Dahulu Lucifer adalah malaikat, namun akhirnya Lucifer di turunkan ke bumi karena kesombongannya menentang Tuhan,” jelasnya.

    “Nah, kebanggaan dan kesombongan dirinya menentang Tuhan lah yang membuat dia menanggung dan menyebarkan dosa ini,” ungkapnya.

    “Lucifer?” pikirku. “Seperti di dalam anime saja melawan Lucifer.” 

    Kemudian di sela permikiranku, tanpa berhenti sedikit pun ia menjelaskannya.

    “Kemudian, kedua adalah iblis Beelzebub, si penyebar dosa  kerakusan,” ucapnya, “dosa ini kelihatan kecil, karena hanya masalah makanan, namun dosa ini menjadi dosa yang ternyata besar.” 

    “Namun bila seorang manusia tersesat dalam jiwa ini, manusia tersebut akan memilih-milih makanan dan lebih memilih makanan yang lebih mahal dari yang biasa dimakannya!” jelasnya.

    “Begitu.. ternyata hanya karena suka memilih-milih makanan saja itu sudah termasuk salah satu dosa besar,” gumamku di tengah penjelasanya.

     “Itu benar!” ucap Charon menegaskan. 

    “Lalu, ketiga adalah Leviathan si iblis pembawa kecemburuan,” ucapnya. 

    “Iblis ini juga lumayan berbahaya, karena iblis ini bisa mengoda laki-laki untuk melakukan penghujatan!” jelasnya.

    Setelah itu Charon terdiam sejenak. Sepertinya dia kelelahan untuk berbicara..

    “Lantas lanjutkan yang lainnya!” ucapku memintanya.

    Di dalam keadaan diamnya aku terus memperhatikannya. Tentu saja semua penjelasan darinya itu sangat menarik perhatianku. Aku menunggunya berbicara, memperhatikannya dengan cermat, seolah-olah penasaran akan ceritanya.

    “Sabar sebentar!” bentaknya.

    Setelah Charon menenangkan dirinya sejenak,  Di dalam keadaannya, Charon mulai menjelaskan kembali perkataannya.

    “Keempat Asmodeus si iblis hawa nafsu,” ucapnya,  “Iblis ini bertanggung jawab dan bertugas untuk memutar hasrat seksual dari tubuh manusia,” 

    “Iblis ini sungguh kuat, karena Asmodeus membawahi tujuh puluh dua pasukan setan di bawah komandonya!” kata Charon menjelaskan.

    “Lantas bagaimana nanti kamu bisa mengalahkannya setelah jiwa itu keluar dari tubuh manusia ?” tanyaku di tengah penjelasannya yang mengerikan itu. 

    “Entahlah,” jawabnya ragu.

    “Lalu.. sekarang yang kelima,” ucapnya lelah.

    “Iblis kelima adalah Mammon si iblis keserakahan, kekayaan dan ketidak adilan,” jelas Charon, “biasanya manusia yang tersesat dalam Mammon adalah manusia yang rakus pada uang,”

    “Ternyata benda mati seperti uang bisa membuat manusia terjerumus kedalam tujuh dosa besar.. “  pikirku.

    “Kemudian yang keenam adalah Belphegor, si iblis kemalasan!” jelasnya dengan tegas.

    Entah mengapa, setelah menjelaskan perkataan itu, charon mengubah ekspresi pandangan matanya kepadaku. Yah kira-kira seperti tatapan mata seseorang yang sedang mengejek. Seperti itulah..

    Kemudian Charon menjelaskannya dengan nadanya tegas, dengan tatapan matanya yang terlihat meledek, dan mengatakannya  kepadaku..

    “Itu yang merasukimu kemarin..” jelas Charon. 

    “Belphegor biasanya menempel pada manusia karena manusia itu suka menunda pekerjaan dan terus mencari pekerjaan yang lebih mudah!” ungkap Charon dengan masih dengan tatapan meledeknya.

    Melihat tatapan matanya yang seperti itu, perkataannya yang mengarah kepadaku, membuat pemikiran yang sangat jelas di dalam benakku.

    “Jadi kamu ingin berkata aku selalu menunda-nunda pekerjaanku dan bermalas-malasan!?” gerutuku kepadanya.

    “Entahlah..” ucapnya sambil tersenyum.

    Lalu akhirnya, tanpa terasa, sampailah pada penjelasan terakhir Charon. 

    “Dan yang ketujuh adalah...” ungkapnya setengah bingung.

    Charon terdiam sejenak ketika menjelaskan dosa ketujuh. Lalu tanpa memikirkannya Charon berkata..

    “Aku lupa yang ketujuh!” ungkapnya dengan senyuman seolah tak merasa bersalah tak menjelaskannya.

    Sungguh suatu hal yang tidak menyenangkan mendengar cerita yang terputus bukan? Tentunya semua orang berpikir seperti itu, namun sepertinya Charon tidak sependapat dengan hal itu. Masih dengan simpul senyumnya yang seolah tak merasa bersalah, ia memandangku.

    Namun aku tidak tinggal diam, tentu saja perkataan selanjutnya itu sangat kutunggu. Dan karena alasan itulah, dengan sebuah desakan kecil, aku berkata kepadanya..

    “Jangan tiba-tiba menjadi lupa seperti itu dong!” ucapku kecewa.

    Mendengar ucapan kecewaku membuat Charon sedikit memutar otaknya. Sepertinya perkataan itu sedikit menarik perhatiaannya. Dan didalam pembicaraan itu, ia menatap langit-langit di dalam kelas sambil sesekali melihatku.

    Memandangku dan membuang pandanganya ke langit-langit, seolah berusaha untuk memikirkan seseuatu.

    “Sebentar-sebentar...” kata Charon. 

    Sepertinya Charon sedikit kesulitan mengingat hal itu. Semua itu bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang terlihat kebingungan. Namun melihatnya ekspresinya membuat rasa penasaran di benakku. Karena dari raut wajahnya aku bisa melihat Charon seolah berusaha mengingat sesuatu yang dilupakannya.

    “Lantas apa yang ketujuh?!” tanyaku kepadanya.

    Mataku berbinar-binar menatapnya, penasaran, seakan menanti penjelasan terakhirnya. Memang sejak kecil aku senang sekali mendengarkan cerita-cerita pengalaman seseorang, apalagi jika itu berhubungan tentang magic, mystic, dan horror, aku sangat menyukainya!Mungkin itu muncul karena kebiasaanku menonton anime dan membaca manga, yah begitulah menurutku.

    “Sungguh aku tidak ingat,” ucapnya tersenyum.

    Tapi seperti ada yang menganjal di dalam hati Charon ketika berbicara tentang dosa yang ketujuh.


    Seperti ada sesuatu yang terlupakan, dan tak ingin diingatnya kembali..


    “Jadi seperti itulah iblis-iblis yang mewakili tujuh dosa besar.. jiwa-jiwa yang tersesat,” ungkapnya.

    “Tujuh!? kamu hanya menjelaskannya enam,” gerutuku.

    “Sudahlah tak apa, yang terpenting semuanya ada tujuh,” ucap Charon tersenyum.

    “Ternyata masih banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini..”  pikirku.Lalu di akhir penutupan ceritanya, Charon berkata kembali..

    “Dosa-dosa kecil mungkin tak seberapa dengan dosa itu, namun justru karena dosa-dosa kecil itulah yang akhirnya menimbulkan dosa-dosa besar,” ungkap Charon.

    “Kesalahan manusia sendirilah yang akhirnya menimbulkan iblis-iblis tersebut itu ke dalam dunia.”

    ***

    Akhirnya jam istrahat berakhir dengan penjelasan-penjelasan Charon. Melihat keadaan itu sedikit membuatku panik.

    “Ini sudah jam masuk, bisa berbahaya kalau sensei sampai melihatmu,” ucapku kepada Charon.


    Tanpa perasaan panik, atau gugup, 

    Charon menjawab sikapku itu.


    “Tenang saja, mereka tidak bisa melihatku,” jawab Charon sambil tersenyum.

    “Eh?!” pekikku.

    Akhirnya sedikit pemikiran didalam benakku terjawab. Jadi itulah sebabnya ketika aku berteriak kepada Charon, teman-teman tak ada yang melihat sedikit pun ke arahnya. Mungkin teman-teman berpikir itu sudah hal biasa... sebab seperti hari-hari sebelumnya..


    “APAAA?! ENDING MACAM APA INI?!” teriakku di tengah pelajaran ketika sedang membaca manga.


    Sensei dan teman-teman hanya memandang dengan tatapan heran ketika melihatku. Yah terkadang seperti itulah keseriusanku ketika sedang membaca manga dengan mencuri waktu di kelas. Mungkin itu sudah hal biasa.

    “Jadi kamu tak bisa dilihat oleh siapa pun selain aku?” tanyaku di tengah jawabannya.

    “Tepat sekali!” jawab Charon.

    “ Sungguh hari yang melelahkan...”  pikirku.

    Lalu kemudian ditandai dengan jam istirahat yang berakhir, murid-murid yang berada di luar mulai kembali memasuki kelas. Begitu juga dengan Yuri yang berada diantara kerumunan mereka.

    Tetapi ketika aku melihat Charon kembali, pandangannya sudah berubah..


    Charon memandang Yuri dengan ekspresi wajahnya yang dingin.


    Kini dengan sorot matanya yang tajam, Charon memandang  yuri. 

    “Ada apa ini?”  tanyaku dalam hati.

    Jam pelajaran sekolah telah usai, diikuti dengan keberangkatanku menuju rumah. Tapi, masih banyak hal yang mengganjal di dalam pikiranku. Itu adalah tentang semua dosa besar yang dijelaskannya kepadaku, dan juga sikapnya hari ini, tentang tatapan mata Charon yang tajam kepada Yuri.
    Semenjak jam pelajaran dimulai kembali, Charon tak henti-hentinya memandang Yuri. 

    Sampai sekarang pun dia belum menghilang dari pandanganku. Ia terus mengiringiku berjalan menuju rumah. Dan karena mempertimbangkan semua hal itu, tanpa ragu-ragu, aku berkata kepadanya..

    “Ada masalah apa?” tanyaku kepadanya.


    Dari keadaan yang tertegun, 

    Charon mulai menatapku.


    “Teman di belakang tempat dudukmu memiliki  jiwa yang tersesat,” ucapnya datar.Aku terkejut mendengar perkataannya.

    “Apa!? Yuri memiliki jiwa yang tersesat?!” pekikku. 


    Aku terperangah memandangnya,

    seakan tak percaya dengan perkataan yang baru saja kudengar.


    “Tidak mungkin..”  pikirku.

    “Itu benar..” jawabnya.


    Mendengar perkataannya membuatku bertanya-tanya..


    “Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?” tanyaku penasaran.

    “Aku mempunyai kekuatan, mataku dapat melihat jiwa yang tersesat didalam tubuh manusia,” jawabnya.

    “Dark Eyes.. itulah julukanku,” tambahnya.



    “Lama tak berjumpa... Dark Eyes.” 


    Tiba-tiba saja aku teringat tentang kata-kata itu ketika ia mengungkapkannya. Kata-kata yang diucapkan Belphegor kepadanya.

    “Terlebih lagi jiwanya itu bukanlah jiwa tersesat yang biasa,” ungkapnya.


    Aku terkejut mendengar perkataanya..


    “Wanita yang selama ini ku dambakan ternyata memiliki jiwa yang tersesat dalam tubuhnya?! dan lagi sama besarnya seperti diriku?!”

     “Mengapa!? Mengapa harus yuri!?”  pikirku tidak percaya.Seolah-olah pertanyaan itu terus mengaduk didalam hatiku.

    “Bagaimana mungkin wanita secantik dan sebaik Yuri bisa memiliki jiwa yang tersesat?” tanyaku kepada Charon.

    “Cantik itu relatif, baik itu dominan,” ungkap Charon.

    “Bukan berarti karena kamu baik dan cantik kamu terlepas dari dosa-dosa lainnya bukan?” jelasnya.


    Sepertinya aku sedikit mengerti akan kata-kata yang diucapkannya kepadaku.

    “Lalu dosa apa yang melekat kepadanya?” tanyaku penasaran.


    Dengan nada yang datar Charon berkata..


    “Dosanya adalah Kecemburuan ( Leviathan ).”

    ***

    “Cemburu?!”

    “Mengapa Yuri harus merasa cemburu dengan keadaannya yang luar biasa seperti itu?”

    “Dia cantik, dan juga baik hati, apa yang dicemburuinya dari anak-anak lainnya?” pikirku. 

    Begitulah segudang pertanyaan yang ada didalam pikiranku semenjak berada didalam rumah. Ini semua terjadi setelah Charon menghilang pandanganku. Akhirnya sebelum Charon menyelesaikan apa pun, ia menghilang meninggalkanku begitu saja di tengah perjalanan.


    “Aku harus pergi, masih ada yang aku harus selesaikan,” ucap Charon kepadaku di tengah keadaan diamnya.

    “Tunggu Charon!” ucapku kepadanya.

    Untuk pertama kalinya dalam pertemuan kami yang terjadi beberapa hari ini, aku memanggil dengan namanya. Charon berpaling dengan wajahnya yang sedikit terperangah. Seolah Charon terkejut dengan panggilan namanya.

    “Aku belum selesai dengan penjelasanmu,” ucapku.

    Charon terdiam sejenak di dalam keadaannya.. lalu tak lama kemudian, dengan menyesal ia berkata..

    “Maafkan aku,” ucapnya, “aku masih harus mencari jiwa yang tersesat lainnya,” 

    Lalu kemudian di tengah penyesalannya ia menambahkan..

    “Urusan teman sebangkumu aku serahkan kepadamu yah, Wakatsu!” katanya seraya tersenyum.

    Aku terkejut mendengarnya memanggil namaku. Terlebih lagi, dia memanggil nama depanku. 

    “Lagi-lagi kamu mau menghilang disaat penting,” ucapku ditengah keadaannya yang hampir menghilang.

    “Aku tak bisa santai berlama-lama, sementara masih banyak jiwa tersesat di luar sana,” jawabnya.

    Kemudian ia berpaling membelakangiku bergegas untuk beranjak pergi.

    “Ingat, kamu harus menghentikannya segera mungkin!” tegasnya, “sebelum dosa itu menguasainya dan menjadi pendosa yang sesungguhnya.”


    Setelah itu  Charon menghilang dari pandanganku.


    Dan begitulah akhir pertemuanku dengan Charon.

    “Mengapa sih dia selalu ngomong ungkapan..” gerutuku. 

    Tanpa terasa, hari sudah menjadi sangat larut. Malam telah tiba, serta heningnya malam membuatku merasa lelah. 
    Seharian ini semenjak kepulanganku dari sekolah, aku hanya berdiam diri di kamar. Berbaring di tempat peristirahatanku, sambil memikirkan dalam-dalam perkataan yang diberikan Charon kepadaku.

    Lalu seiring berjalannya waktu, rasa kantuk mulai menghampiriku. Seakan-akan kelopak mataku tahu akan waktu yang telah menjadi sangat malam. Namun, itu semua tak menghentikan pemikiran untuk masalah itu.

    Dengan cepat, aku terus berpikir.. merenungkan bagaimana caranya untuk menyelamatkan Yuri dari jiwanya yang tersesat itu.

    “Bagaimana aku bisa membebaskan Yuri dari belenggu iblis?!” gumamku.

    Kemudian aku mencoba memikirkannya satu persatu. Mengingat semua prilaku, kejadian, dan sifat Yuri yang sudah berlalu bersamaku selama ini.

    Sebab sudah satu semester lamanya aku mengenal Yuri, berbagi cerita dan canda tawa. Jadi kupikir, mungkin menurutku bisa saja aku mendapat petunjuk penting mengenai Yuri. 


    Aku memikirkannya dalam-dalam.. 

    Lalu pada akhirnya aku menemukannya.


    Kemudian..  Binggo!

    “Sepertinya cerita seperti ini sering kulihat didalam manga..” gumamku.

    Aku tersenyum dengan wajah yang puas. Lalu karena terlalu senangnya, sampai-sampai aku tak sadar telah berteriak.. 

    “Aku mulai mengetahui kebenarannya!” teriakku.

    Namun di tengah teriakanku itu, terdengar suara mengerikan menyahut. Suara yang sangat tak asing lagi di gendang telingaku dan sering kali kudengar diwaktu-waktu seperti ini.

    “Wakatsu tiduur!!! ini sudah jam satu malam!” teriak ibuku dari lantai bawah.

    “Besok kamu masih harus bersekolah!” bentaknya.

    Sepertinya teriakanku cukup kuat, sampai-sampai membangunkan ibuku yang sedang tertidur di lantai bawah. 

    “Benar.. aku harus mengisi tenagaku..” pikirku.

    “Besok aku akan menemui Yuri dan menyelamatkannya!” ucapku dalam hati.

    Lalu selang setelah semua pemikiranku, perlahan aku mulai memejamkan mata. Berharap bisa dengan cepat beranjak kedalam alam bawah sadarku.

    Akhirnya pertanyaan didalam hatiku terjawab semuanya.



    Dark Eyes - The Beginning of Evil All Chapter
    Chapter 04 - END
    To be continued Chapter 05 - Matahari Senja
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comment:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Light Novel Indonesia]Dark Eyes - The Beginning of Evil ( Chapter 4 - Tanya Hati ) Rating: 5 Reviewed By: Razelion Android
    Scroll to Top