• Latest News

    Subcribe and Follow For New Update

    Saturday, February 27, 2016

    [Light Novel Indonesia]Dark Eyes - The Beginning of Evil ( Chapter 5 - Matahari senja )

    BAB V
    Matahari senja

    Tiga belas juli, pukul setengah sepuluh pagi.

    Hari ini hari minggu, hari yang sangat ditunggu-tunggu bagi semua pelajar. Tapi entah mengapa bagiku hari minggu adalah hari yang biasa-biasa saja. Sebab tak ada seorang yang spesial bagiku atau teman yang bersahabat yang bisa ku kunjungi. Mungkin karena aku terlalu tergila-gila dengan serial manga dan anime, itulah yang membuatku sedikit menjaga jarak dari teman-teman atau wanita yang mendekatiku. Misalnya saja pada saat kemarin, saat seorang wanita di kelas mengajakku.

    “Wataku, nanti malam apakah kamu ada acara?” ucap seseorang wanita di kelas ketika mendekatiku.

    “Sepertinya malam minggu ini aku sibuk dengan urusanku,” jawabku sambil membaca manga.

    Padahal sebenarnya hanya ada acara bergadang menonton anime di rumah. Atau pada saat seorang teman yang kukenal di kelasku mengajak bermain.

    “Hei, Wataku! Mari ikut bergabung bermain bola dengan yang lain!” ajak Rechi.

    “Maaf, aku sedang sibuk dengan urusanku Rechi-kun..” ucapku menolak ajakannya.

    Sedangkan pada saat itu aku sedang sibuk membaca manga, karena aku tak mau diganggu maka aku menolaknya.  


    Hanya anime dan serial manga yang menjadi teman terbaik dalam kehidupan sehari-hariku. 
    Disaat aku sulit menghadapi kenyataan dunia yang kejam ini.
    Mungkin kalian bisa menganggapnya dengan pelarian. 
    Walaupun kelihatan seperti pengecut,
    aku menyukainya.
    Bagiku semua itu tidaklah masalah,
    selama masih ada manga dan anime yang setia menemaniku.


    Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini aku sering memikirkan Charon.


    Charon selalu menghinggapi pikiranku.


    “Bodoh... bodoh.. bodoh..” gumamku sambil memukul kepala.


    Mengapa aku selalu memikirkannya?


    “Mengapa aku selalu memikirkan iblis pengganggu itu..” ucapku pelan.

    Dengan berat hati, harus kuakui. Memang, beberapa hari ini semenjak kedatangan Charon yang tiba-tiba, sedikit demi sedikit kehidupanku mulai berubah. Sifat malasku, perlahan-lahan menghilang.

    Bahkan sampai-sampai aku melakukan perkerjaan sambilan di tengah kegiatan Otaku yang cukup padat itu. Sekarang, aku menjadi lebih aktif dalam melakukan suatu hal. Yah walaupun hanya terkadang.

    “Okaa-san, sini aku bantu membelikan belanjaan!” teriakku dari lantai atas.


    Mungkin semua ini terjadi karena akibat lepasnya jiwa tersesat dalam diriku..

    Atau mungkin karena kehadiran Charon?! Aku pun tak tahu itu. 


    Pada saat itu, aku belum sepenuhnya paham tentang perasaan yang kualami pada saat-saat ini. Aku yang tak pernah bersosialisasi ataupun peduli tentang orang lain, sedikitnya sekarang menjadi peduli tentang masalah orang lain. Contohnya seperti hari ini, aku sedang memikirkan cara dan langkah untuk menyelamatkan jiwa Yuri.

    “Ini semua gara-gara Charon!” ucapku kesal.

    Dengan ekspresi kesal, aku mengatakannya. Mengungkapkanya, seakan tak rela serta kecewa, waktu menonton dan membacaku terlewati.


    Tetapi jauh didasar lubuk hatiku, aku memikirkannya..


    “Charon.. dimana kamu sekarang...” ucapku pelan.

    Sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu. Meskipun aku baru saja mengenal Charon dan tak begitu tahu banyak tentang dirinya.Walaupun meski terkadang, kehadirannya sangat menganggu dan merepotkan bagiku.

    Namun di balik semua itu, kehadirannya sedikit mengobati rasa kesepianku. Bentaknya, ucapannya, kemarahannya, senyumnya. Walau kutahu, pertama kali, pertemuan antara aku dengannya sangat tidak menyenangkan. Wanita itu berkata, 


    ”Aku akan membunuhmu!”


    Namun sekarang, Charon tak ada di sisiku. Sudah dua hari ini Charon menghilang dari pandanganku. Hanya ucapan dan senyum terakhirnya yang masih membekas di dalam ingatanku semenjak terakhir bertemu dengannya.

    “Urusan teman sebangkumu aku serahkan kepadamu yah... Wakatsu!”  katanya sambil tersenyum.

    Hanya itu ucapan terakhirnya yang selalu kuingat dalam pikiranku..

    “Mungkinkah aku menyukainya?”  pikirku. 

    Aku  mulai bersiap-siap mengganti pakaianku kemudian bergegas menuju rumah Yuri. Sebab, bertepatan dengan menghilangnya Charon, Yuri menghilang.

    “Mengapa sih Yuri menghilang di saat  yang bertepatan..”  pikirku.

    Sudah dua hari lamanya Yuri tidak masuk sekolah di karenakan sakit. Padahal waktu itu, baru saja aku ingin memulai penaklukan terhadapnya.Pada waktu itu, aku bertanya kepada ketua kelas karena tidak melihat kehadirannya yang kunjung datang..

    “Apa yamada-san sakit?!” ucapku kepada ketua kelas.

    “Benar.. Yamada-san sakit, Akika-kun,” ungkapnya, “Kamu ada perlu dengannya?”

    “Eh, tidak apa-apa kok,” ucapku kepadanya, “Aku hanya sekedar bertanya.” 

    Begitulah yang terjadi pada waktu itu. Sebenarnya pada waktu itu bisa saja sepulang sekolah aku lansung menemui Yuri dan menjenguknya, sambil perlahan-lahan memulai penaklukan yang sudah kurencakan.
    Akan tetapi pada hari itu semua yang terjadi malah sebaliknya. Setelah pelajaran sekolah berakhir, Rechi mendekatiku dan mengatakan tentang suatu hal yang sangat penting kepadaku.

    “Eh?! Ada diskon besar-besaran di *Animate?!” Pekikku. 

    Aku memandang Rechi dengan tatapan mata berbinar-binar. Melihatnya dengan sorot mata yang memukau seolah-olah informasinya itu sangat berarti di telingaku.

    “Itu benar, Wataku! kita harus segera kesana sepulang sekolah!” Teriak Rechi. 


    *Animate = Toko anime terbesar dijepang, tepatnya di wilayah *Ikebukuro kota jepang.


    “Sedang ada diskon besar-besaran di sana! dan itu hanya berlansung selama dua hari ini!” tambah Rechi.

    Tanpa membuang waktu, aku menarik tangannya. Berlari dengan sangat cepatnya keluar dari gerbang sekolah dan bersiap menuju wilayah Ikebukuro. Pada akhirnya, sepulang sekolah itu, aku pergi ke Ikebukuro bersama dengan Rechi. Memburu semua manga yang mendapatkan diskon besar-besaran bersamanya. 


    Namun sekarang sepertinya aku harus memantapkan hatiku.


    Aku menenangkan pikiranku sejenak. Lalu dengan niat yang kuat, aku membuka pintu.. bersiap dan bergegas menuju ke kediaman Yuri. 


    Bersiap untuk memulai penaklukannya.


    “Okaa-san, aku berangkat!” ucapku kepada ibu.

    “Eh!?” pekik ibu heran. 

    “Kamu mau kemana?” tanya masih dengan nada herannya.

    “Aku akan berkunjung ke tempat temanku, Okaa-san,” jawabku kepada ibu.

    Di dalam keadaannya, wajah ibu masih terlihat heran. Terlihat heran seakan kepergianku ini sangat mengejutkannya.

    “Jarang sekali ibu melihatmu pergi pada hari minggu,” ucap ibu.

    Aku hanya tersenyum membalas perkataan ibu. Lalu setelah percakapan singkat dengan ibu di depan pintu, aku melangkahkan kakiku meninggalkan rumah.

    ***

    Pukul sepuluh pagi.

    Dengan santainya, aku berjalan menuju ke kediaman Yuri. Wajar saja aku bersantai-santai, karena letak rumah Yuri tak jauh dari sekitar kediamanku. 

    Yah bisa dibilang rumahnya hanya berbeda beberapa Blok dari rumahku. Aku cukup mengetahuinya, walaupun jika diingat-ingat baru setengah tahun lamanya aku tinggal di daerah ini.Di sekolah kami duduk berhadapan. Namun meski pun begitu, sebenarnya kami bisa duduk berhadapan itu adalah suatu ketidak sengajaan. Yah kurang lebih..


    Sebuah kebetulan yang tak terduga.


    “Baik anak-anak! pertama-tama sebagai wali kelas ibu ucapkan selamat kepada kalian karna telah lulus dan masuk ke kelas ini. Dan baiklah lansung saja ibu katakan, pemilihan tempat duduk tahun ini akan ibu atur melalui undian yang ada di kotak meja tempat ibu berada. Nah kalian majulah satu-satu.”

    Dan setelah giliranku..

    “Apa !? Di depan Yuriiiii?!” teriakku tidak percaya.

    Mendengar teriakanku, Yuri hanya tersenyum manis.Yah begitulah kisah pertemuan tempat duduk di kelas kami. Namun meskipun aku sudah cukup lamanya mengenal Yuri, bukan berarti aku sudah sering mengunjunginya. Aku bahkan belum pernah sekalipun memasuki kediamannya. 

    Sebab aku terlalu sibuk dengan urusan-urusanku membaca manga dan menonton anime.Lalu akhirnya sampailah aku pada kediaman dimana Yuri berada.

    Aku menarik nafas dalam-dalam, memantapkan sejenak pikiranku. Lalu setelah cukup lega, dengan tenangnya aku mulai menekan bel pintu itu. Kejadian itu terus berlansung sampai seorang wanita membuka pintu yang berada tepat di depan gerbang rumah itu.

    Wanita itu membuka pintunya secara perlahan. Lalu dengan keadaannya yang setengah mengintip ia melihat ke arahku.Namun wanita itu bukanlah seorang yang ingin kutemui. Melainkan wanita lain itu adalah pelayannya Yuri.

    Aku beranggapan seperti itu sebab ia mengenakan sebuah pakaian *Maid yang biasa dipakai pelayan pada umumnya.

    “Menakjubkan.. Yuri memiliki pelayan dirumahnya.” pikirku.

    Memang, Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan pelayannya Yuri. Aku tak pernah  memikirkannya bisa bertemu dengan pelayannya seperti ini. Siapa sangka, bukan cuma penampilan Yuri saja yang menganggumkan, ternyata kehidupannya pun cukup mengejutkan. Jadi wajar saja jika penampilan Yuri  cukup terawat dan mengagumkan. Lalu dengan wajah dan sikapnya yang manis, ia tersenyum ketika melihat ke arahku. 

    “Selamat siang!” sapaku kepada pelayannya itu. 

    “Selamat siang!” balasnya dengan sebuah senyuman hangat, “maaf, anda siapa? dan anda mencari siapa?” 

    “Saya Akika Wakatsu, teman sekelasnya Yamada Yuri,” jawabku di tengah sikap ramahnya itu, “bisakah saya bertemu dengan Yamada Yuri?”


    *Maid = Sejenis pakaian para pelayan di jepang.


    “Oh, kamu teman sekelas Yuri-chan!” ucapnya terkejut, “maafkan saya! maaf membuat kamu menunggu!” `

    Sesaat setelah mendengar ucapanku, dengan cepat, ia berlari menuju pintu gerbang yang ada di dalam pandanganku. Setelah itu, ia membuka gerbangnya lebar-lebar dan mulai berbicara kembali kepadaku.

    “Maaf, Akika-kun.. Yuri-chan sekarang sedang tidak berada di rumah,” kata pelayannya.

    “Katanya dia sakit!” ujarku kesal dalam hati

    Mendengar jawaban pelayannya sedikit membuat kecewa. Sia-sia sudah penaklukan yang telah kurencanakan matang-matang.

    “Yuri-chan pergi berjalan-jalan keluar sejak pagi hari tadi,” jelas pelayannya.

    Aku terdiam sesaat di dalam keadaanku. Mendengar jawaban dari pelayannya membuat sebuah pertanyaan kecil di dalam pikiranku. 

    “Dimana Yuri berada?”  pikirku.

    “Jadi bagaimana? kamu ingin menunggunya?” tanyanya dengan sebuah nada yang mengajakku untuk masuk.

    Untuk sejenak aku mulai memikirkan tawaran baik yang diberikan pelayannya kepadaku.

    “Apa boleh buat..” pikirku.

    Lalu pada akhirnya aku menerima tawaran baik yang diberikan pelayannya kepadaku. Dengan sangat berhati-hati aku mengikuti pelayan itu dan memasuki kediaman Yuri. 

    Namun aku sedikit dikejutkan ketika berada di dalam rumahnya. Ternyata rumahnya lebih luas daripada yang kuperkirakan. Kediamannya sungguh lebih besar daripada yang terlihat di depannya. 


    Dengan design glamour, Elegant.. Itulah yang bisa kusimpulkan.


    “Sungguh menakjubkan..” pikirku, sambil menatap sekeliling rumahnya.

    “Mari silahkan diminum,” ucap pelayannya tersenyum.

    Pelayannya menyambutku dengan sangat baik. Dengan santunnya ia menyapaku, lalu menyuguhkan beberapa hidangan berupa makanan kecil serta minuman yang di taruhnya di meja. Setelah itu, pelayannya duduk tepat di hadapanku, Lalu mulai bertanya..

    “Kamu ada perlu apa dengan Yuri-chan, Akika-kun?” tanya pelayannya. 

    “Oh, itu yaah.. ituuu...” jawabku bingung.

    Memang duduk berhadapan dengan pelayannya sedikit membuatku gugup. Tentu saja, ini adalah pertama kalinya aku berbicara dengan orang yang lebih dewasa dariku. Mungkin salah, ini kedua kalinya setelah aku berhadapan dengan orang yang lebih dewasa selain Sacho dimana tempat perkerjaan sambilanku dilakukan.

    “Saya dengar dari ketua kelas Yuri sedang sakit, jadi saya berpikir untuk menjenguknya,” jelasku.

    Untung saja ada kata-kata yang terlintas dipikiranku pada saat ia bertanya kepadaku. Karena selama ini aku hanya menutup diri dan jarang sekali bersosialisasi dengan khayalak orang ramai. Apalagi berbicara dengan orang yang lebih dewasa dariku, seperti pelayannya ini. 

    “Sungguh sangat merepotkan.”  pikirku. 


    Tak pernah sedikit pun terbayangkan aku akan melakukan hal yang merepotkan seperti ini.


    “Benar kamu hanya bermaksud menjenguknya?” tanya pelayannya menyelidik.

    Ia mulai menatapku dalam-dalam, seakan mencari tahu kebenaran dalam diriku. Lalu melihatnya tatapannya seperti itu membuatku menjadi semakin gugup.

    “Itu benar! saya hanya bermaksud menjeguknya!” ucapku dengan nada yang gugup.

    Namun melihat reaksiku, membuat pelayan itu tertawa.


    Sepertinya sikapku sedikit menghiburnya.


    Namun saat ia tertawa dan bertanya membuat sedikit pertanyaan di dalam benakku,“Seberapa dekat  Yuri dengan pelayannya?”  pikirku.

    Wajar saja selama ini yang kulihat di dalam manga, jarang sekali ada seorang pelayan yang berani mempertanyakan suatu hal yang bersifat pribadi tentang majikannya. Terlebih lagi, ia memanggil nama depannya bukannya memanggilnya dengan sebutan *Ojou-sama.

    “Kamu ini anak yang lucu yah,” ucap pelayannya kepadaku.


    *Ojou-sama = Nona atau putri.



    Ternyata pelayannya mengerjaiku, sama seperti Yuri yang sering menggangguku. Ternyata sifat pelayannya tak berbeda jauh dengan Yuri.

    “Sebenarnya Yuri-chan tidak sakit, Akika-kun,” ungkap pelayannya.

    “Heh?!” pekikku heran. 

    Aku terkejut mendengar jawaban dari pelayan Yuri itu. 

    “Yuri-chan hanya tidak ingin bersekolah saja beberapa hari ini,” jelas pelayannya.

    "Mengapa dia tidak ingin bersekolah?” tanyaku penasaran.

    “Saya juga kurang begitu tahu alasannya,” jawabnya. 


    Mendengar penjelasannya membuat pertanyaan besar di dalam pikiranku.


    “Ada apa dengan  Yuri?”  pikirku.

    Tetapi, belum sempat aku menanyakannya, pelayannya sudah menjelaskan kembali tentang perkataannyaTanpa ragu-ragu ia menceritakannya.

    “Tapi, memang ada yang aneh dengan Yuri-chan beberapa hari ini,” ungkapnya. 

    “Aneh seperti apa?” tanyaku. 

    “Beberapa hari ini ada yang tak biasa dengan sikap Yuri-chan,” jawabnya, “Yuri-chan terlihat sedikit aneh, lalu beberapa hari ini Yuri-chan lebih suka mengurung diri di kamar.” 

    Sungguh, terlihat khawatiran ketika pelayannya mengungkapkan hal itu. Sepertinya pelayannya sangat khawatir dengan keadaan Yuri. Melihat sikapnya itu membuatku sedikit tertegun. Sekarang, aku tak ragu lagi tentang kedekatannya dengan Yuri. 

    “Lalu ketika saya menanyakan soal nilai pelajaran hasil ujiannya, Yuri-chan tidak menjawab,” jelas pelayannya.

    Mendengar penjelasan pelayannya, membuatku kembali memutar otakku. Dengan cepat aku berusaha untuk mengolah informasi yang diberikannya. 
    Berpikir dengan cepat, dan berusaha untuk mencari tahu apakah yang sedang dipikirkan Yuri. Namun, di sela keadaan diamku itu, pelayannya kembali menanyakan hal yang membuatku gugup.

    “Kamu sudah lama berteman dengan Yuri?” tanya pelayannya.

    “Belum cukup lama,“ jawabku kepadanya.

    “Sudah berapa lama?” tanyanya tanpa berpaling sedikit pun.

    “Kira-kira setengah tahun,” ucapku mengira-ngira.

    “Lalu sudah sejauh mana hubunganmu dengan Yuri-chan?” tanya pelayannya kepadaku.

    Mendengar pertanyaannya yang seperti itu, membuatku tersentak. Lalu di dalam keadaan itu, perlahan wajahku mulai memerah.


    Memerah seperti buah tomat.


    Pada saat yang bersamaan pikiranku menjadi kacau, dan tak bisa bebicara dengan jelas. Pelayannya hanya tertawa kecil melihat wajahku yang memerah. Aku sungguh terkejut mendengar pertanyaan lansungnya itu. Aku tak menyangka pelayannya akan bertanya seperti itu.

    “Saya hanya bercanda..” ujarnya.Namun di sela tawanya, pelayannya berkata dengan penuh harapan.

    “Saya hanya ingin meminta tolong kepadamu, Akika-kun,” ungkapnya.

    “Jika kamu temannya hiburlah dia.”

    ***

    “Saya hanya ingin meminta tolong kepadamu, Akika-kun.” 

    “Jika kamu temannya, hiburlah dia.”

    Itulah kata-kata yang terlintas dipikiranku saat ini sebelum aku benar-benar beranjak untuk pulang. Pada akhirnya, Yuri tak kunjung pulang semenjak kedatanganku.
    Lalu, tak terasa delapan jam telah kulalui semenjak keberangkatanku menuju rumah Yuri.

    Tentu saja, karena sebelumnya pelayannya berbicara banyak hal mengenai Yuri. Itu yang membuatku tertahan cukup lama. Lalu ketika melihat jam tangan..

    “APAAA?! Sudah jam enam?!”  pikirku dalam hati.

    Melihat waktu yang berputar sangat cepat membuatku panik. Lalu di sela perbincanganku dengan pelayannya aku beranjak untuk pamit.

    “Maaf!” ucapku di tengah perbincangan.

    “Saya harus segera pulang, hari sudah petang,” ucapku sambil tersenyum.

    Mendengar ucapanku membuatnya bertanya-tanya. Sepertinya masih banyak hal yang ingin diungkapkannya kepadaku.

    “Oh, kamu sudah mau pulang?” tanyanya, “kamu tak ingin sedikit lebih lama lagi menunggu kepulangan Yuri-chan?” 

    Sebenarnya pada saat itu aku ingin sekali menunggu kepulangan Yuri. Tapi mau bagaimana lagi.. aku lebih takut dengan teriakan ibu daripada apa pun.

    “Tidak apa-apa,” ungkapku dengan sebuah senyuman, “besok aku masih bisa bertemu Yuri di sekolah.”

    “Oh, begitu,” ucap pelayannya.

    Kemudian dengan hangatnya pelayan itu mengantarkanku ke depan pintu, dan berkata..

    “Baiklah, hati-hati di jalan yah,” ucap pelayan itu sambil tersenyum.

    Yah begitulah akhir pertemuanku dengan pelayan Yuri. Pada saat itu aku sangat senang. Ternyata kehadiranku ditanggapinya dengan keramahan.

    “Mungkin lain kali aku harus menyempatkan diri untuk bekunjung kembali kesana,” pikirku.

    Namun, ketika aku sedang berjalan menuju rumahku, di tengah perjalanan, aku melihat seorang wanita yang sedang termenung di taman. Wanita itu sangat kukenal, dan ingin sekali kutemui hari ini. Benar, dia adalah Yuri.

    “Yuri?! Sedang apa dia di situ?!”  pikirku.

    Yuri berada tepat di sebuah taman yang tak jauh dari daerah rumahku. Yuri duduk terdiam di sebuah ayunan sambil menikmati matahari senja yang perlahan-lahan turun di hadapannya.
    Melihat kehadiran Yuri, aku tak tinggal diam. Aku bergegas mendekatinya secara perlahan, lalu mulai menegurnya..

    “Yuri? Sedang apa kamu disini?” tanyaku di tengah keadaannya yang termenung.

    Ia berpaling sejenak ke arahku. Namun tak ada sedikit pun keterkejutan di wajahnya. 


    Sepertinya Yuri sudah terbiasa menerima kehadiran seseorang yang datang secara tiba-tiba.


    “Oh, Wataku,” gubrisnya, setelah berhasil menengok dan mengarahkan pandangan matanya kepadaku.

    “Aku sedang menatap matahari senja,” jawabnya pelan. 

    “Sangat indah bukan?” katanya, sambil menunjuk matahari senja.

    Aku berpaling kearah matahari yang ditunjuknya itu. Memang benar seperti perkataannya, matahari senja itu sangat terlihat menawan di dalam bola mataku. Seketika perasaan takjub muncul di hatiku. Sungguh suatu hal yang sangat indah yang pernah kulihat. Walaupun selama ini aku tak pernah menyadarinya.

    “Iya, sungguh indah,” gubrisku.

    Namun, di sela rasa takjubku, ia kembali mengungkapkan perkataannya dengan nada yang menyedihkan.

    “Menyedihkan bukan menjadi matahari senja..” ucapnya dengan nada datar.


    Mendengar perkataannya membuat pandanganku berpaling.


    “Di saat petang dia elok dan sangat indah, tapi itu semua takkan berlansung lama,” ucapnya. 

    “Sebelum malam menggantinya..”

    “Itulah takdir Matahari Senja,” gumamnya.



    Dark Eyes - The Beginning of Evil All Chapter
    Chapter 05 - END
    To be continued Chapter 06 - Alasan Yuri
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 comment:

    Item Reviewed: [Light Novel Indonesia]Dark Eyes - The Beginning of Evil ( Chapter 5 - Matahari senja ) Rating: 5 Reviewed By: Razelion Android
    Scroll to Top