• Latest News

    Subcribe and Follow For New Update

    Friday, February 26, 2016

    [Light Novel Indonesia]Dark Eyes - The Beginning of Evil ( Chapter 2 - Penyelesaian )

    • Title: Dark Eyes - The Beginning of Evil ( Pharase 2 )
    • Author: Valdo L Finz
    • Genre: Fantasy, Action, Romance, Slice of life, Comedy.
    • Status: Completed

    BAB II                    
    Penyelesaian

    “Aku akan kembali besok,

    “Bila besok kamu tak berhasil mengeluarkan jiwa yang tersesat  dalam tubuhmu, aku akan membunuhmu.”

    “Dosamu adalah kemalasan, ingat itu.”

    Hanya kata-kata itu yang selalu terbenak dalam ingatanku saat ini. Semenjak kejadian yang terjadi kemarin, aku selalu memikirkan hal itu.
    Aku sungguh tidak mengerti dengan ucapannya yang tak masuk akal itu. Terlebih lagi dia menyebut dirinya iblis. Aku sangat terpukul mengingat kenyataan aneh ini.

    “Dosaku..” gumamku.

    “Wataku..” panggil seseorang ditengah kebingungan yang sedang melandaku.

    Dalam keadaan heningku, samar-samar  terdengar suara seseorang memanggilku. Suara itu sangat lembut dan juga merdu. Suaranya sangat halus, seperti alunan paduan suaraProfesional.


    Namun sepertinya suara itu tak asing ditelingaku.


    “Hei, Wataku..” panggilnya.

    Suara lembut itu terus memanggil dalam keadaanku yang tak berujung. Walaupun begitu, aku tetap mengabaikannya.
    Tetapi semakin aku mengabaikannya, suara itu semakin terdengar jelas. Lalu pada akhirnya, sampailah dimana suara itu menjadi sangat kencang.

    “Watakuuu!!” teriaknya.

    Teriakannya sungguh kencang, sangat keras.. Sampai-sampai membangunkan semua lamunanku.

    “Uwaah!” pekikku terkejut.

    Aku sangat terkejut, sampai-sampai aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya berteriak, tertahan kecil ditengah keadaan itu.
    Namun semua itu tak membuatku lantas diam saja. Setelah berhasil menenangkan diri sejenak dari keterkejutanku, aku berbicara kepadanya..

    “Kamu mengagetkanku, Yuri!” ucapku kesal.

    Ternyata suara yang tak asing itu adalah Yuri. Sejak tadi Yuri terus memanggilku, namun aku mengabaikannya. Itulah yang membuatnya naik pitam dan berteriak sangat keras.

    “Apa yang sedang kamu pikirkan?” katanya sambil tersenyum.

    “Tidak ada,” jawabku.

    “Sepertinya kamu sedang menghadapi suatu masalah?” tanyanya, “kamu tak ingin bercerita?”

    Dengan senyum dan raut wajahnya yang ceria, Yuri bertanya kepadaku. Yuri bertanya seakan-akan ia tahu dan prihatin pada keadaanku.
    Memang, semenjak kemarin aku terus memikirkan perkataan wanita misterius itu. Seharian ini pun aku tak melakukan kegiatan apa-apa seperti membaca manga misalnya.
    Aku hanya termangu di tempat duduk sambil memikirkan perkataannya itu.

    “Sungguh, tidak ada apa-apa,” jawabku dengan tersenyum.

    Aku berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat normal dimatanya. Membuat ekspresi seolah tak terjadi apa-apa denganku. Sebab, Yuri akan bertanya banyak hal jika aku menceritakan sesuatu.
    Terlebih lagi, setelah mengetahuinya, Yuri tak akan tinggal diam. Pastinya ia ingin ikut memainkan peran didalam cerita itu.


    Sungguh wanita yang cukup merepotkan.


    Jadi setelah kupikir berulang-ulang, didalam keadaan itu aku memutuskannya. Sebaiknya aku tak menceritakan kejadian itu kepadanya.
    Walaupun semua itu bertolak belakang dengan sifat penggerutuku, namun aku melakukannya. Memasang muka polos atau bisa saja disebut wajah bodoh dan membohonginya.
    Aku hanya tak ingin membawa Yuri kedalam masalahku. Tak mau melibatkannya kedalam bahaya yang menghantuiku.. Hanya itu saja.

    “Sungguh?” tanyanya dengan raut wajahnya yang semakin curiga.

    Kecurigaan semakin tumbuh di bola matanya, seolah-olah kata-kataku tak cukup berarti untuknya. Ia menatapku dengan raut wajahnya yang cukup serius, seakan-akan dia akan menelanku jika aku tidak berbicara.
    Namun aku yakin, aku bisa membodohinya. Tentu saja, untuk ukuran orang baik seperti Yuri, sangatlah mudah untuk menipunya.


    Sepertinya pengertian antara baik dan bodoh tak bisa dibedakan pada dirinya. 


    “Sungguh!” jawabku tanpa berdelik sedikit pun.

    Dengan sebuah senyuman ringan, aku menjawab pertanyaannya yang singkat. Aku menjawabnya tanpa berdelik sedikit pun dari tatapan matanya.
    Itu semua kulakukan berdasarkan refrensi dari manga yang pernah kubaca sebelumnya. Didalam manga itu mengatakan, palingan mata bisa mempengaruhi nilai kejujuran.
    Kurasa itu cukup masuk akal untukku.

    “Baiklah,” ucapnya kemudian, “sepertinya aku terlalu berlebihan melihatmu.”

    Namun itu semua tak membuatnya lega. Walaupun kurasa aktingku sudah cukup sangat sempurna, alasanku membuat Yuri menghela nafasnya sejenak.
    Melihat Yuri menarik nafas seperti itu, membuat sedikit penyesalan dipikiranku.
    Membohonginya hanya menambah perasaan bersalah dihatiku. Andai saja aku bisa bercerita kepadanya tentang kejadian kemarin, mungkin semua akan terasa berbeda.
    Melihat ekspresi Yuri yang sedikit cemas, membuat kekhawatiran dipikiranku. Walaupun sebenarnya didalam posisi ini seharusnya aku yang merasa cemas.
    Aku mulai berpikir untuk menenangkannya dan berkata..

    “Kamu tak perlu menghawatirkanku,” ucapku kepadanya.


    Namun kenyataan yang kudapatkan sedikit  berlainan.


    “Siapa yang menghawatirkanmu, bodoh!” ucapnya sambil memukul pundakku.

    Begitulah keadaannya bila sifat kasarnya muncul.

    “Syukurlah jika memang begitu,” ucapnya dengan sebuah senyum menawan, “aku berharap tak terjadi apa-apa denganmu!”

    “Senyumnya.. indahnya..” pikirku.

    Melihat senyumnya membuatku terpesona dan terperangah. Sejenak beban didalam pikiranku menghilang ketika melihat senyumnya yang indah itu.
    Tanpa berpaling sedikit pun, aku terus memandanginya. Tapi didalam keadaan itu, perlahan wajahnya mulai memerah ketika bola mataku memandangnya dalam-dalam.

    “Kamu tak perlu memandangku seperti itu bodoh!” teriaknya sambil memukulku.


    Entah mengapa aku selalu salah dimatanya..


    “Aku pulang duluan yah, Wataku!” ucapnya dengan sebuah lambaian tangan.
    “Sampai jumpa besok! tetap semangat!”

    Begitulah ucapan terakhir yang kudengar darinya, sebelum Yuri benar-benar meninggalkanku dan pergi. Tetapi melihatnya seperti itu aku tersentak dari pikiranku..

    “Tunggu, jam berapa ini?!” sadarku ketika melihat Yuri mulai beranjak jauh dan pulang dari kelas.
    “Huah! Sudah setengah tiga?!” pekikku.

    Tersadar, sudah enam  jam berlalu di sekolah.
    Dengan cepat, aku segera bergegas dan mulai beranjak menuju rumah. Sebab bila hari ini aku masih terlambat pulang, habislah aku dengan ibuku.
    Tapi itu semua tak lebih dari kekhawatiran biasa. Karena yang lebih menghawatirkan lagi akan terjadi pada hari ini.

    “Bagaimana ini?! aku belum menemukan cara apapun..” pikirku. 


    BAGAIMANA AKU BISA LOLOS DARI KEMATIAN?!


    “Tunggu.. masih ada cara.” pikirku. 

    ***

    Sesampainya di rumah, aku segera bergegas melakukan rencanaku. Dengan perhitungan yang matang, aku segera memulainya.
    Lalu.. Pada akhirnya..
    Jeng.. Jeng.. Jeng!
    Dimulailah kegiatan ekstraku!

    “Dosaku adalah kemalasan, mungkin dengan sedikit kerajinan dan kegiatan ekstra, aku dapat menghilangkan dosa itu! sempurna! hahahaha!” pikirku bangga.  


    Terkadang seperti itulah diriku


    Aku segera melakukan semuanya. Diawali dengan mengepel lantai, aku memulai aktifitas itu. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan menyapu halaman rumah. Lalu diikuti dengan menyetrika pakaian, mencuci baju, mencabut rumput halaman dan membereskan kamar.
    Ibuku sangat terkejut ketika melihatku. Sepertinya semua tingkahku membuatnya bertanya-tanya. Ekspresi ibu terlihat sungguh tidak percaya melihat semua tindakanku.
    Sebab, entah sudah berapa lama aku meninggalkan semua itu. Satu bulan? dua bulan? entahlah.. Sepertinya sudah tidak bisa dihitung lagi.

    *Okaa-san, ada yang bisa kubantu?” tanyaku ketika dia melihat kearahku.

    “Eh?!” pekiknya heran.


    *Okaa-san = Panggilan untuk seorang ibu. 


    Hari ini, semua kegiatan rumah yang biasa kutinggalkan terselesaikan dengan rapi.Yah karena hari-hari biasa, aku hanya membaca manga dan menonton anime. Jadi aku tak punya waktu untuk melakukan semua ini.
    Akhirnya perkerjaan rumahku terselesaikan.

    ***

    Hari menjadi malam.. Tanpa kusadari, semua sudah menjadi sangat larut.
    Seharian ini aku tak henti-hentinya menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa istirahat sedikit pun.

    “Lelahnya,” gerutuku sambil menyadarkan diri di tembok.

    Tapi, lelahnya tubuhku tak dapat mengalihkan semua kekhawatiran yang ada didalam benakku.

    “Apa sekarang dosaku telah hilang?!” pikirku. 

    Namun belum selesai aku memanjakan tubuhku, sang iblis telah muncul kembali di hadapanku. Dengan tatapannya yang dingin dia memandangku.

    “SIAL!” pikirku. 
    “Ternyata dia datang kembali lebih cepat daripada yang kukira..”

    Sesuai perjanjian, sekali lagi dia kembali di hadapanku. Entah dari mana dia datang, tak tahu dari mana dia masuk.

    “Oh, kamu..” ucapku setengah lelah.

    “Sesuai dengan perjanjian, aku datang kembali menemuimu,“ ucapnya datar.

    Melihat wajahnya yang dingin membuatku sedikit ragu. Sebenarnya aku enggan bertanya kepadanya, tetapi mau bagaimana lagi. Aku harus mendapatkan jawaban pasti darinya.


    Aku memantapkan hati, dan mulai bertanya kepadanya.
    Walaupun semua itu terasa berat.


    “Apakah dosaku telah hilang?” tanyaku kepadanya.

    Tak lama, selang didalam perkataanku, rasa penasaran bercampur takut mulai menusuk didadaku. Lalu jantungku berdetak sangat kencang menunggu perkataannya.
    Menanyakannya saja sudah membuat jantungku berdegup kencang, apalagi mendengar jawabannya. Tapi apa pun jawabannya aku sudah siap menerimanya.


    Siap menerima kemungkinan hal terburuk.


    Setidaknya hari ini aku telah berusaha keras melawan dosaku.


    Namun jawabannya membuatku kecewa..


    “Dosamu belum lenyap,” katanya dingin.

    Aku terkejut mendengar ucapannya.


    Meski terdengar pelan, kata-katanya terlalu menyakitkan untuk didengar.


    Walaupun sebelumnya aku telah memantapkan pikiranku, sepertinya hatiku tidak bisa menerimanya.  Hatiku menjadi kacau, lalu seketika pikiranku pun melayang. Terasa seperti diaduk-aduk kedalam adonan kue begitulah kira-kira.


    Ternyata usaha yang aku lakukan hanyalah sia-sia.


    “Aku sudah berusaha sebisaku, tetapi tak terjadi apa-apa,”  jawabku pelan.

    Hanya itu kata yang bisa ku ungkapkan kepadanya. Terlebih lagi pada posisi ini aku tak bisa banyak menawar. Jawaban darinya telah membuat semangatku pudar dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Namun didalam keadaan ini, aku masih sedikit berharap jawabanku dapat menghentikan niatnya untuk membunuhku.


    Tetapi kenyataannya, jawabanku tak dapat menghentikannya.


    “Baiklah kalau begitu, aku akan membunuhmu sekarang,” ucapnya datar.

    Kemudian setelah ucapannya itu, secara tiba-tiba wanita itu mulai mengeluarkan pedang panjangnya kedalam genggamannya. Entah dari mana pedang itu muncul kedalam genggaman tangannya.

    “Ada permintaan terakhir?” ucapnya kepadaku.

    Aku terperangah melihat reaksinya. Setelah mendengar jawabanku, rupanya niatnya tak kunjung reda. Padahal sebelumnya aku sempat berharap kepadanya. Berharap wanita ini akan melepaskan dan mengampuniku.

    “Sungguh sangat bodoh..” pikirku.

    Aku tertegun dan terdiam. Perlahan aku mulai merenungkan semuanya. Memikirkan semua perbuatanku selama ini. Entah ada apa, perasaan itu timbul pada saat-saat ini.


    Meskipun aku sudah tahu bahwa merenungkannya pun adalah hal yang percuma.


    Kemudian aku mulai memikirkan sebuah permintaan yang akan kuberikan kepadanya. Kata-kata terakhirku, sebelum ia benar-benar membunuhku. Karena pada saat ini aku tak berharap banyak pada keajaiban.


    Pasrah dan tak berdaya.


    Sebab aku mengerti, ada suatu hal yang tak bisa dipaksakan, yaitu takdir.
    Tak ada sedikit pun permintaan yang kuharapkan kepada Dewa pada saat ini. Mungkin itu adalah pemikiran egoisku, namun aku menyukainya. Asal kalian tahu, pemikiranku lebih besar daripada hati nuraniku.


    Mengapa manusia hanya memerlukan pengampunan disaat mendekati ambang kematian? Sedangkan dimana dia pada saat keadaanya senang.. Dimana dia pada saat dirinya bahagia.


    “Sebelum membunuhku, aku minta satu hal..” jawabku kepadanya.

    “Apa itu? katakan..” jawabnya. 


    Aku menatapnya dalam-dalam..
    Memandang wajahnya dengan penuh kesungguhan, lalu berkata..


    “Setelah membunuhku, berhentilah membunuh,“ pintaku.


    Jangan membunuh lagi.


    “Jangan membunuh banyak orang lebih dari ini,” ucapku, ”membunuh takkan menyelesaikan masalah.”

    Ia tersentak mendengar ucapanku. Sejenak ia terdiam dan tertegun. Lalu entah mengapa, untuk sesaat, raut wajahnya terlihat sedikit menyedihkan.
    Begitu juga ketika aku menatap matanya. Aku bisa merasakan sedikit bayangan dirinya. Sebuah cerminan yang terpancar dari lubuk hatinya.


    Bayang-bayang kesedihan.


    Didalam bola matanya yang indah, aku bisa melihat kesedihan yang amat dalam. Rasa bersalah, kepedihan, penghianatan, seolah berkata, “Jangan! hentikan!” begitulah menurutku.


    Wanita itu hanya terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun.


    Lalu dimulailah penghakiman wanita itu. Wanita itu mulai mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan memantapkan arahnya. Sekarang tak ada keraguan sedikit pun yang bisa terlihat dari matanya.

    “Kurasa keberuntunganku sudah habis..” pikirku. 


    Tak mengapa, aku tak menyesal.


    Ia menggenggam erat pegangan tangannya. Lalu dengan cepat, ia mengayunkan pedangnya.
    Benar-benar siap menghabisiku yang berada di depannya.


    Tanpa ada keraguan, ia mengarahkan pedangnya.


    “Jadi seperti ini akhirku..” pikirku. 


    Perlahan-lahan aku mulai menutup mataku, seakan pasrah dengan keadaan yang akan terjadi.
    Kemudian aku mulai teringat akan kesalah-kesalahanku. Kesalahan yang sering kuperbuat..
    Aku mulai mengingatnya satu persatu sebagai tanda permintaan maaf,
    sebelum perasaan itu menghilang untuk selamanya.
    Membuat sensei marah pada jam pelajaran, dan lebih memilih membaca manga..
    Lebih memilih menonton anime disaat liburan,
    dibandingkan dengan mengerjakan pekerjaan rumah.
    Menghabiskan waktu dengan tidur-tiduran daripada belajar..
    Perlahan aku mulai menyadari semua kesalahan-kesalahku.. semua kemalasanku.
    Tapi bagiku ini sudahlah sangat terlambat.
    “Sebentar lagi keberadaanku akan lenyap..” pikirku. 
    Penyesalan selalu datang belakangan yah?  


    Tiba-tiba, pada saat aku berada diambang kematian, aku merasakan sesuatu berlari keluar dari dalam tubuhku. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya seumur hidupku.


    Perlahan, sesosok kabut yang sangat tebal mulai mengelilingi tubuhku.


    Wanita itu terkejut melihat keadaan itu. Pada saat yang bersamaan, ia menghentikan dan menahan ayunan pedang yang akan diarahkannya kepadaku.
    Kemudian secara bertahap, kabut itu melepaskan diri dari dalam tubuhku. Semula tak berbentuk hanya berupa gumpalan asap.. Tetapi tak lama kemudian, asap itu mulai berubah menjadi sebuah wujud.


    Sebuah wujud yang mengerikan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.


    Menjadi sebuah mahkluk yang menakutkan, yang berada tepat di depan wanita itu. Wujudnya berbentuk seperti seorang iblis tua berjenggot.
    Namun tak ada kenormalan yang bisa dilihat dari dirinya. Wajahnya sangat menakutkan, dengan dua buah bola mata merah.


    Iblis.. Sesosok iblis muncul kembali.


    Mempunyai tanduk yang cukup panjang, serta mempunyai sepasang sayap. Benar-benar sesosok iblis yang menyeramkan.
    Melihat sosoknya membuat tubuhku gemetar. Sungguh sesuatu yang sangat mengerikan.  Tak pernah terbayang sedikit pun dalam benakku akan melihat hal seperti ini.
    Berbeda dengan wanita ini, wanita ini adalah iblis wanita yang cantik. Bola matanya merah menawan, tidak seperti makhluk itu. Serta ia juga tak mempunyai tanduk serta sayap.
    Wajahnya tak menyeramkan. Hanya ekspresi dinginnya saja yang menakutkan. Tak terlihat keganjilan sedikit pun pada saat memandangnya. Benar-benar seperti wanita biasa pada umumnya. Sayang sekali jika dia wanita iblis.

    “Akhirnya kau keluar juga,” kata wanita itu dingin, “jiwa yang tersesat.”

    Kembali, wanita itu mengeluarkan ekpresi dinginnya ketika berhadapan dengannya. Sorot matanya kini menjadi tajam ketika memandangnya.

    “Lama tak berjumpa, Dark Eyes,” sapa mahkluk itu.

    “Dark  Eyes?!” pikirku. 

    “Tidak perlu berbasa-basi, aku akan menghabisimu sekarang,” ucap wanita itu.

    “Kau tak perlu terburu-buru,” jawab makhluk itu mengejek.

    Tanpa ragu-ragu wanita itu melompat tinggi melewati tubuhku. Melompat dengan ringannya, seakan gaya gravitasi tak berpengaruh pada tubuhnya.
    Lalu seketika, wanita itu sudah menuju tepat di hadapan mahkluk itu. Dengan gerakan tangannya yang cepat, ia mulai menyerangnya. Tetapi ada yang berbeda dengan serangannya.
    Sekarang, serangannya lebih cepat dari biasanya dan sangat bertenaga. Sungguh berbeda pada saat pertama kali ia menyerangku.

    “Apa waktu itu dia menahan diri?!” pikirku. 

    Ayunan demi ayunan dihempaskannya kepada makhluk itu, tanpa membuang waktu sedikit pun. Tetapi dengan mudahnya mahkluk itu dapat menghindarinya.

    “Kau pikir bisa mengalahkanku?!” ucap mahkluk itu ditengah serangan-serangannya.

    “Kita lihat saja siapa yang akan bertahan,” jawab wanita itu menyeringai.

    Serangan-demi serangan terus diarahkannya kepada makhluk itu.


    Serangan yang sangat cepat dan terarah.


    Tak kalah hebatnya, mahkluk itu pun selalu membalas serangannya. Pertarungan keduanya berlansung cukup lama, sampai-sampai membuatku tercengang.
    Sungguh sebuah pertarungan sengit yang sangat menakjubkan, membuat siapa saja akan terkejut jika melihatnya. Tapi, tak mengapa wanita itu juga dapat menghindari setiap serangan yang diberikan mahkluk itu kepadanya.

    “Keren! seperti menonton anime!” pikirku. 
    “Tapi rasanya aku pernah melihat adegan ini didalam anime.”  

    Dengan perasaan senang, aku menikmati pertarungan yang sedang berlansung itu. Senang bercampur takjub, hanya itu yang bisa kugambarkan saat melihat pertarungan antara keduanya.


    Walaupun pada awalnya aku takut akan kematianku.


    Diawal dan pertengahan, mahkluk itu dapat dengan mulus menghindari setiap serangannya. Namun sekarang, sepertinya mahkluk itu sudah mencapai batasnya menghadapi wanita itu.
    Perbandingan kekuatan semakin terlihat jelas diantara mereka seiring waktu berlalu. Mahkluk itu akhirnya terpojok.

    “Bagaimana bisa kau sekuat ini, Dark Eyes?!” kata mahkluk itu.

    Didalam keadaannya, mahkluk itu mulai terlihat gelisah. Wajahnya menjadi panik, seakan menunjukan ketidak percayaan akan kecepatan dan kekuatan bertarung yang dimiliki wanita itu.
    Serangan wanita itu sepertinya cukup membuatnya kewalahan. Tapi wanita tak menghiraukannya. Dia hanya terdiam.
    Dengan posisinya yang tenang, dia terus melancarkan serangannya secara bertubi-tubi. Lalu akhirnya sampailah pada serangan terakhir wanita itu.

    “Enyahlah kau kedalam kegelapan,” ucapnya.

    Namun ditengah serangan terakhirnya yang tak terelakan, mahkluk itu berkata..

    “Tunggu! bagaimana kalau aku memberikan keabadian sekali lagi untukmu?!“ bujuk mahkluk itu, ditengah
    keadaannya yang terdesak.

    Entah mengapa, wajah wanita itu terlihat sangat kesal ketika mendengar perkataannya. Lalu dengan kencangnya, ia menjawab..

    “Itu tidak kuperlukan lagi!” teriak wanita itu.

    Aku terkejut melihatnya berteriak. Baru ini aku melihat ekspresi wajahnya yang sedang berteriak marah. Yah walau selama ini ia selalu memasang wajah dingin.
    Didalam keadaan mahkluk itu yang tidak berdaya, wanita itu menyerangnya. Mengakhiri mahkluk itu untuk selama-lamanya.
    Akhirnya, serangan terakhir berhasil diarahkan wanita itu kepada mahkluk itu. Sebuah serangan kemenangan yang mengakhiri pertarungan mereka.
    Sebuah serangan yang kuat, bertenaga dan sangat terarah. Pertarungan mereka seketika berakhir dengan kemenangan wanita itu.
    Kemudian mahkluk itu lenyap bersama dengan uraian butiran cahaya. Menjadi serpihan kecil cahaya putih yang terurai bersama udara.
    Dan kembali lagi pada keadaanku..
    Setelah mahkluk itu menghilang, rasa cemas kembali menghampiriku. Segudang pertanyaan mulai bermunculan didalam kepalaku.

    “Apa yang akan dilakukannya kepadaku setelah ini?!” pikirku.

    Walaupun sebelumnya aku sempat takjub melihat pertarungan yang baru saja terjadi, namun semua rasa cemasku tak kunjung hilang.
    Wanita itu mulai berpaling kearahku. Menatapku dalam-dalam dengan cermatnya.
    Saat bertatapan dengannya perasaan cemas kembali mencekamku. Akan tetapi ada perbedaan yang terlihat dari dirinya.


    Tatapan matanya melunak.


    Lalu ditengah keadaan itu, aku mencoba untuk menenangkan diri. Mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengannya.
    Kemudian aku mulai berpikir, mencari-cari kata yang tepat untuk berbicang-bincang kepadanya. Lalu setelah berhasil memikirkannya, aku berkata kepadanya..

    “Mengesankan!” ucapku kepadanya dengan senyuman.

    Karena tak tahu harus memulai darimana, aku mengucapkan perkataan itu. Walaupun itu mungkin terlihat bodoh untuk didengar.

    “Bodoh!!” bentaknya.


    Tepat seperti dugaan sebelumnya.


    Namun disela bentakannya, ia memalingkan wajahnya. Menjauhkan pandangan matanya dariku dan mengalihkan pandangannya sejenak. Tapi disela palingannya, aku bisa melihatnya.


    Raut wajah kesedihannya.


    “Kalau sedikit saja kau terlambat mengeluarkan jiwa itu dari dalam tubuhmu, mungkin aku sudah mengakhiri hidupmu,” ucapnya pelan.

    Sejenak, perhatianku menuju kepadanya. Dia mengucapkan kata-kata itu dengan perasaan bersalah. Mendengarnya saja sudah membuat penilaian siapa pun berubah kepadanya.


    Ternyata pemikiranku selama ini salah tentangnya.
                   

    “Ternyata dia tak sedingin yang kukira..” pikirku.

    Mungkin itu yang dimaksud dengan “Jangan menilai orang dari luarnya. Kurasa aku sekarang mengerti akan ungkapan itu setelah bertemu dengannnya.
    Aku hanya tersenyum menanggapi perkataannya. Lalu dengan segera, aku kembali mengajaknya berbicara. Berkata seolah tak ada yang terjadi diantara kami.

    “Pertemuan sebelumnya aku belum sempat memperkenalkan diri!”  ucapku kepadanya.

    “Namaku Akika Wakatsu, senang bertemu denganmu!” ungkapku dengan nada yang bersahabat.

    Aku memberikan salam hangat kepadanya. Lalu dengan gerakan kepalaku yang tertunduk, aku mengucapkannya. Sebuah gerakan yang seakan-akan menunjukan perasaan senang ketika bertemu dengannya.
    Tetapi sepertinya semua itu tak menarik perhatiannya. Ucapanku sama sekali tak digubrisnya.


    Dia tetap mengabaikanku.


    Lalu dari keadaan diamnya, perlahan bibirnya lembutnya mulai berbicara. Berkata dan mengungkapkan suatu hal yang cukup mengejutkanku.

    “Jiwamu sudah terbebas dari jiwa yang tersesat,” ucapnya, “aku tak perlu lagi membunuhmu.”

    Seketika perasaanku menjadi sangat lega pada saat dia menjelaskan kata-kata itu. Sungguh suatu ucapan yang sangat ingin kudengar darinya.

    “Syukurlah!” pikirku 
    “Terima kasih *Kami-sama.”

    Selama sisa hidupku, saat ini adalah pertama kalinya aku bersyukur kepada Dewa. Pada saat ini aku sedikit mengerti makna dari kata hidup yang selalu aku gerutukan dalam keseharianku.

    “Jadi itu yang kamu cari?” tanyaku, “jiwa yang tersesat dalam tubuhku seperti itu?”

    Dia memandangku dalam-dalam, seperti memastikan suatu hal yang ada didalam kepribadianku.  


    Lalu tanpa ragu-ragu,  
    dia menjawab semua pertanyaanku.. 


    *Kami-sama = Tuhan atau dewa. 


    “Benar, itu adalah jiwa tersesat yang ada didalam tubuhmu,” ujarnya, “jiwa yang dipenuhi dengan dosa.. dosa kemalasan.”

    Aku tertegun mendengar penjelasannya itu.

    “Sungguh mengerikan,” balasku.


    Setelah itu, ia mulai menghilangkan pedang dari genggaman tangannya.
    Seolah hukum alam tak berpengaruh baginya.


    Lalu setelah penjelasan yang singkat itu, ia berpaling kearahku. Untuk sejenak, ia terdiam dalam posisinya. Tetapi, entah mengapa ia berkata..

    “Sudah lama aku mencari dan berburu jiwa yang tersesat itu dalam tubuh manusia,” ucapnya pelan.
    “Namun baru saat ini aku berhasil mengalahkannya tanpa menjatuhkan korban,” jelasnya.

    Tanpa mengarahkan palingannya, dia mengucapkan kata-kata itu. Mungkin karena mukanya terlihat menyedihkan pada saat mengungkapkan hal itu.

    “Jika saja itu bisa kulakukan dari dahulu,” ucap sesalnya.           

    “Iblis menyesal?!” pikirku. 

    “Sudah berapa lama kamu melakukan semua itu?” tanyaku ditengah keadaannya itu.

    “Sudah lima tahun lamanya,” jawabnya, “sudah banyak korban yang berjatuhan dengan tangan ini.”

    Ia mengungkapkan hal itu sambil menatap tangannya, seakan menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya.
    Aku terkejut melihat sikapnya yang seperti itu. Benar seperti dugaanku, ternyata dibalik bola matanya yang indah itu tersimpan kesedihan dan penyesalan yang amat dalam.

    “Mengapa kamu tidak berhenti saja melakukan semua itu?” ucapku kepadanya.


    Ucapannya pelan, namun sangat jelas..


    “Aku tidak bisa berhenti, dan tidak akan pernah berhenti,” ucapnya.
    “Semua ini sudah menjadi tugas yang harus kujalankan.”

    Mendengar semua perkataannya, membuatku merasa iba.
    Iba mungkin suatu ungkapan yang kurang tepat disaat ini. Mungkin simpatik, perhatian, kasihan, peduli, aku pun tak mengerti.
    Perlahan kesedihan mulai menyelimutiku ketika melihatnya seperti itu. Seakan hatiku tahu dengan apa yang dirasakannya sekarang.
    Ia terus menjelaskan semuanya secara bertahap. Menceritakan semuanya, walaupun aku hanya terdiam tanpa bertanya.

    “Aku tidak pernah bisa menghindar dari semua kutukan ini,” ungkapnya,“keberadaanku adalah sebuah kutukan, kutukan akan ketidak puasan di dunia.”

    Kemudian setelah ucapannnya itu, ia terdiam.
    Setelah itu, perlahan ia mulai membelakangiku. Seolah bersiap menjauh, dan beranjak untuk pergi.

    “Tunggu! tunggu dulu!” teriakku kepadanya.

    Tak mengapa, aku berteriak menahan langkahnya saat dirinya mulai menjauh. Berteriak menahannya seperti masih ada banyak hal yang ingin kubicarakan kepadanya.

    “Mungkin kamu tidak bisa lari dari masalahmu, tapi bukan berarti kamu harus membunuh bukan?”

    Hanya itulah yang sanggup ku ungkapkan kepadanya ditengah keadaannya yang mulai menjauh.
    Ia berpaling sejenak kearahku, lalu memandangku. Ditengah palingannya itu ia tersenyum, seolah kata-kataku bermakna bagi dirinya.
    Tak lama kemudian, dia pun menghilang.


    Aku hanya bisa melihat dan mengingatnya..
    Senyum terakhir yang diberikannya kepadaku itu.
    Mungkin itu sebuah senyuman hangat yang tulus dari dalam hatinya.
    “Semoga masalahmu terselesaikan.” ucapku didalam hati.



    Setelah ia menghilang, aku segera bersiap-siap.  Bersiap untuk memanjakan diri dengan cara membersihkan badan dan beranjak tidur.
    Menenangkan pikiranku sejenak atas pristiwa yang baru saja terjadi. Menyegarkan pikiranku untuk kembali beraktifitas besok di sekolah.

    ***

    Lalu..
    Keesokan harinya..

    Ditengah rasa kantukku, pada pagi itu aku merasakan sedikit keanehan..
    Aku merasakan adanya kehadiran seseorang yang sedang memperhatikanku.

    Lalu ditengah perasaanku yang tidak tenang itu, perlahan aku mulai membuka mata. Tetapi ketika aku berhasil membuka mataku..

    “Selamat pagi!” ucapnya tepat dihadapanku.

    “Huah!!” teriakku sambil melompat dari tempat tidur.

    Ketika membuka mata, wanita misterius itu sudah berada dihadapan wajahku. Karena begitu terkejutnya, sampai-sampai aku melompat dari tempat tidurku dan berteriak dengan sangat kencangnya. Untung saja ibu tidak mendengarnya.

    “Kenapa?” tanyanya heran.

    “Kamu mengagetkanku!” teriakku.

    Tanpa perasaan bersalah, ia tersenyum.
    Tersenyum dengan sangat polosnya.


    “Apa dia mempunyai kepribadian ganda?” pikirku.

    “Bagaimana kamu bisa muncul di kamarku?” tanyaku ditengah kehadirannya.

    “Aku bisa berada dimana saja sesuka hatiku,” ucapnya.

    “Benar juga..” pikirku. 
    “Dia bisa berada dimana saja sesukanya, sama seperti awal dan akhir saat aku bertemu dengannya.”

    “Ya sudahlah..” helaku.

    Lalu karena rasa kantukku telah hilang, aku segera membereskan kamarku. Merapikan semuanya ditengah perhatiannya yang menuju kearahku.

    “Lalu untuk apa kamu datang kemari?” tanyaku disela kegiatanku.

    “Bukankah kamu sudah melenyapkan jiwa tersesat didalam tubuhku?”

    Ia terdiam sesaat, seakan pertanyaanku cukup sulit untuknya. Namun ketika melihatnya aku bisa mengetahuinya.
    Ada maksud tersembunyi dibalik wajahnya itu, walaupun ia terlihat berpura-pura seperti mencari-cari jawaban.
    Namun ternyata jawabannya cukup mengejutkanku.

    “Mulai saat ini, kamu harus membantuku mengeluarkan jiwa tersesat dari dalam tubuh manusia,” pintanya.

    “Eh?!” pekikku.

    Aku terperangah melihatnya. Perkataannya sangat membuatku terkejut.

    “Mengapa harus aku?” tanyaku heran.

    Ia terdiam sesaat seperti mencari-cari alasan.
    Tetapi mendengar semua jawabannya membuatku berpikir alasannya sudah cukup direncanakan olehnya.

    “Karena kamu berhasil mengeluarkan jiwa tersesat dari dalam tubuhmu,” jawabnya dengan sebuah senyuman, “kamu pasti bisa melakukannya kembali.”

    Mendengar jawabannya membuatku terdiam. Memang penjelasannya cukup masuk akal untukku.
    Tetapi semua itu berlawanan dengan kpribadian Otaku’ku. Lalu dengan tegas, aku menolaknya.

    “Tidak mau!” tegasku.

    Mendengar tolakanku, ia terlihat kecewa. Namun, melihatnya wajahnya yang seperti itu, membuat perasaan bersalah dihatiku. Lalu ditengah kekecewaannya itu, aku berkata..

    “Aku tidak tahu caranya..” ucapku ragu, “itu hanya kebetulan.”


    Namun, mendengar perkataannya membuatku enggan untuk menolak.


    “Kalau begitu aku akan terus membunuh, seperti yang biasa aku lakukan,” ucapnya mengancam.

    Sepertinya perkataanku tak  mengurungkan niatnya untuk mengajakku.


    Aku terdiam sesaat mendengar ucapannya.


    “Tapi tunggu dulu...” pikirku.

    Aku mulai memutar otakku, kemudian memikirkannya satu-persatu. Mengulang setiap kejadian yang telah berlalu kemarin.
    Mencoba mencari bagaimana caranya mengeluarkan jiwa tersesat yang ada didalam tubuhku.

    Bukan karena kain pel.. bukan karna sapu..
    Bukan karena bersih-bersih.. bukan karena semua itu..  melainkan..
    Binggo!
    Kesadaran.
    Semua itu terlepas karena kesadaran.
    Kesadaran akan dosaku dan menyesalinya.
    Itulah yang membuat jiwa yang tersesat keluar dari dalam tubuhku.
    “Bila aku mampu menyadarkan seseorang dari jiwa tersesatnya, mungkin aku bisa menyelamatkannya..” pikirku. 

    Setelah melewati pemikiranku yang berputar-putar, akhirnya aku memutuskannya dan berkata kepada wanita itu. .
    “Baiklah, aku akan membantumu mengeluarkan jiwa yang tersesat dari tubuh manusia!” tegasku kepadanya.

    Wajahnya terlihat senang ketika aku mengucapkan perkataan itu. Lalu dengan senyumnya yang indah ia berkata.“Kalau begitu kita sudah sepakat, mulai hari ini kita akan mulai berburu jiwa yang tersesat,” ucapnya.


    Tapi ditengah kegembiraannya itu,
    aku teringat akan sesuatu..
    Sesuatu yang belum kupertanyakan sebelumnya.


    “Tapi sebelum itu, bisakah kau mengenalkan namamu terlebih dahulu?” ucapku kepadanya.

    “Oh, iya, maaf!!” ucapnya kepadaku.

    “Iblis meminta maaf?!” pikirku. 

    “Namaku Charon, mohon bantuannya,” ucapnya.

    “Hanya Charon saja?” tanyaku heran, “kau tidak mempunyai marga?”

    “Benar, Charon, hanya itu,” katanya, “aku tidak mempunyai marga.”

    Namun, masih ada satu hal yang mengganjal didalam pikiranku semenjak bertemu dengannya. Lalu ditengah keheranan itu, tanpa ragu-ragu, aku bertanya kepadanya..

    “Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepadamu,” ucapku kepadanya.

    “Katakan..” jawab Charon.

    Aku memandangnya dalam-dalam dan bertanya..

    “Kenapa kamu membiarkanku hidup pada saat itu?” tanyaku kepadanya, “mengapa kamu tak lansung membunuhku?”

    Charon terdiam sejenak mendengar pertanyaanku. Dari wajahnya, sepertinya ia menyembunyikan sesuatu. Namun, aku tak tahu apa itu.

    “Maaf, mungkin sekarang aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu,” jawabnya, “mungkin suatu saat aku akan menjawabnya.”

    Mendengar jawabannya yang seperti itu, membuatku enggan untuk memaksa Charon memberitahukannya.

    “Lalu berapa banyak jiwa yang tersesat yang harus kamu lenyapkan?” tanyaku.

    “Jumlahnya sekitar tujuh,” jawabnya, “aku telah melenyapkan satu, jadi yang tersisa kini enam.”

    “Banyak sekali!” teriakku.

    Charon tersenyum melihat reaksiku, seakan teriakanku terdengar seperti lelucon ditelingannya.

    “Apa pun yang terjadi kau harus membantuku!” ucapnya dengan tersenyum.

    Setelah ia tersenyum kepadaku, Charon mulai berpaling, membelakangiku dengan punggungnya dan menghilang dari pandanganku.


    Seperti biasa ia melakukan kebiasaannya.


    “Sungguh merepotkan..” gerutuku.

    Yah begitulah akhir pertemuan dan awal perjalanan kami berdua dimulai..
    Perjalanan untuk mencari jiwa yang tersesat. 
    Mungkin akan menjadi lebih sulit dari apa yang pernah aku bayangkan.
    Petualangan yang penuh dengan misteri..
    Akankah ada penyelesaian?



    Dark Eyes – The Beginning of evil All Chapter
    Chapter 02 – END
    Bersambung ke Chapter 03 – Ungkapan Maaf

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comment:

    Post a Comment

    Item Reviewed: [Light Novel Indonesia]Dark Eyes - The Beginning of Evil ( Chapter 2 - Penyelesaian ) Rating: 5 Reviewed By: Razelion Android
    Scroll to Top